8.31.2008

Ciri -ciri Asrori Sama Dengan Mr X


JOMBANG - Keyakinan bahwa Asrori alias Aldo adalah Mr X di belakang rumah Ryan, agaknya semakin kuat. Dari pengakuan, salah satu teman sekolah Asrori yang juga warga Desa Kalang semanding saat di Madrasah Tsanawiyah, Asrori memang suka memakai rentengan gelang serta kalung.

Uci, (20) salah satu warga Desa Kalangsemanding yang juga teman satu sekolah Asrori tahu persis kebiasaan Asrori, saat masih duduk di bangku sekolah tingkat SMP. Menurtu penuturan Uci, kebiasan memekai gelang rentengan itu terjadi saat duduk di bangku kelas 1 SMP.

“Kalung yang dipakai berganti-ganti. Kadang-kadang dari logam putih, kadang-kadang juga dari rangkaian manik-manik seperti tasbih,” ungkap Uci. Ciri ini cocok dengan yang menempel pada mayat Mr X di belakang rumah Ryan.

Lebih jauh, kerabat dekat Ryan yang ikut menjenguk Ryan di tahanan Polda Metro Jaya pada 17 Agustus silam juga mengungkapkan, yang dimaksud Ryan bahwa dia membunuh Aldo tersebut, tak lain adalah Asrori, warga Desa Kalangsemanding.

Bahkan ia bertanya pada Ryan, mengenai Asrori yang katanya juga dibunuh pada bulan September dan mayatnya ditemukan di kebun tebu. Ryan, mengelak dan sempat membentak.

“Saya dibentak dengan mengatakan, ‘Asrori ya Aldo itu! Dia dikabarkan sudah mati, ya saya bunuh sekalian,” kata kerebat dekat Ryan, menirukan perkataan Ryan saat dijenguk di Polda Metro.

Dengan agak rinci, Ryan juga sempat membeberkan mengenai ciri fisik Asrori alias Aldo yang dibunuhnya sehabis Idul Fitri 2007 lalu dan dikubur di belakang rumahnya.

“Kata Ryan, ciri-ciri fisik yang dibeberkan dia itu, bertubuh agak pendek dan gigi gingsul. Tapi, kalau ingin kepastian, seharusnya polisi tanya Ryan saja atau Ryan suruh ngomong di depan wartawan,” pungkasnya.

Mr X Akhirnya Pulang

Sementara teka-teki Mr X korban pembantaian Ryan yang semula diduga Muhammad Affandi (22) kini mulai terbongkar. Setelah, orang yang selama ini diidentikkan dengan Mr X korban pembantaian Ryan pulang kerumah, Minggu Pagi (31/8) kemarin.

Hal itu diketahui pihak keluarga setelah warga Desa Mojokrapak Kecamatan Tembelang, Jombang ini menelepon kakak kandungnya, lebih dari satu jam yang mengabarkan bahwa dirinya sedang berada di Denpasar Bali dan bekerja di sebuah bengkel mobil selama beberapa bulan.

Dalam telepon itu, Affandi mengatakan, mengetahui kalau sedang dicurigai sebagai korban sang pembunuh berantai Very Idam Henyansyah alias Ryan (30), pemuda asal Dusun Maijo Desa Jatiwates Kecamatan Tembelang, Jombang, yang juga sang penjagal 11 orang itu.

“Iya adik saya mengetahui kalau sudah dikabarkan sebagai Mr X setelah melihat televisi dua hari yang lalu. Setelah itu ia menghubungi saya,” ujar Mohammad Akhlis (24) pad Duta Minggu Pagi (31/8/),kemarin.

Dikatakan Aklis, setelah mendapat kabar dari pulau dewata, pihaknya langsung menghubungi pihak keluarga lainnya di Desa Mojokrapak Jombang dan Nganjuk, yang selama ini mencemaskan keberadaan Affandi.

Bahkan, ia juga sempat mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada pihak Mapolres Jombang yang sudah membantu menemukan Affandi, yang dikabarkan menghilang selama satu tahun itu.
“Kita memberitahukan kepada pihak polres bahwa Affandi masih hidup,” ujar Kakak Affandi yang juga tercatat sebagai Alumnus Universtas Darul Ulum (undar) Jombang ini. (ami)

Ditengah Terpaan Isu Duo Asrori

Gay Jombang : Polisi Sengaja Bikin Isu

JOMBANG – Rilis yang menyebutkan bahwa ada dua Asrori. Semakin membuat bingung sebagian warga kota santri. Bahkan, sejumlah komunitas Gay maupun Waria di Jombang, sama sekali tak pernah mendengar Asrori Luki seperti yang sudah ramai diberitakan.

Semenjak munculnya kasus Very Idam Henyansyah alias Ryan (30) warga Dusun Maijo, Desa Jatiwates Kecamatan Tembelang, Jombang yang saat ini menjadi salah satu tersangka pembunuh berantai 11 orang yang juga disebut sebagai Pria yang suka dengan sesama jenis alias Gay. Tetap tak mempengaruhi komunitas minor ini berkecil hati atu minder.

Sejumlah aktivitas pun masih saja di jalankan seperti hari-hari biasa. Bahkan, sesekali sebuah komunitas yang masih diangap tabu oleh sebagian orang ini, tetap tak surut melaksanakan hari-hari rutinitasnya seperti laiknya komunitas-komunitas lainnya.

Meski esklusif, namun sebagian dari anggota komunitas minor yang biasa disebut sebagai kelompok para Gay ini, tetap rapat bagi sebagain orang yang bukan bagiannya. Ada pun, sangat kesusahan untuk mencoba mengenal dunia yang menyukai sesama jenis ini.

“Meski kenal kita tetap tertutup mas, kita harus tahu siapa sebenarnya dia, maksudnya apa dari mana asalnya,” ujar salah satu sumber Duta dari anggota Gay Jombang ini, yang tak mau disebutkan namanya, via ponsel.

Meski begitu ia juga tak menampik, jika kasus Ryan ini sempat membuat sebagian anggota komunitasnya shock. Sebab, kebanyakan dari mereka merasa takut jika memang ada dugaan salah satu temannya ada yang menjadi korban dari kebiadaban sang penjagal manusia itu.

“Meski tidak kenal dengan Ryan, saya juga takut jika terjadi apa-apa sama teman-teman yang lain. Kalau disini sudah kayak saudara, jadi ada perasaan khawatir,” katanya.

Kendati begitu, saat Duta mencoba untuk menanyakan seputar nama Asrori alias Luki di komunitasnya, ia hanya mengatakan tidak pernah mendengar nama itu. Bahkan, ia mengaku tak pernah mengenal nama Asorosi alias Aldo maupun Asrori Alias Luki.

“Waduh saya tidak tahu mas, coba tanya sama Ketua saya saja, tapi dia lagi di Sidoarjo sekarang katanya ada acara penting,,” ujar dia.

Senada, Mama Rika, Ketua IWAJO (ikatan waria Jombang) saat di konfirmasi seputar nama Asrori alias Luki, Rika hanya menggelengkan kepala. Kata dia, ia sama sekali tak pernah mengenal orang yang bernama Asorori Luki.

“Ndak tahu mas, saya g kenal tuh siapa Luki,” ujar Mama Rika,kemarin.

Bahkan, sambungnya di komunitas gay dan waria, nama Luki tidak dikenal. Padahal, para korban Ryan hampir semuanya dari kalangan gay. Ketua Ikatan Waria Jombang (Iwajo), Rika, mengungkapkan, dirinya sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar nama Luki alias Asrori, baik di kalangan waria maupun gay.

“Memang kalangan gay itu lebih tertutup dan belum mau menonjolkan eksistensinya seperti kita kaum waria ini. Tapi, dari beberapa gay yang saya kenal, tidak ada yang bernama Luki,” kata Rika, Minggu (31/8).

Justru dari kalangan mereka mengenal nama Asrori alias Aldo. “Kalau Asrori dengan ciri-ciri tidak tinggi, kemudian giginya gingsul, saya pernah kenal,” kata Yudit, anggota Iwajo.

Rika, lantas memberikan nama Budi Affan warga Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Jombang, yang dikenal sebagai gay untuk ditemui. Budi ini, menurut Rika, dikenal sebagai ‘bapak’-nya gay Jombang dan cukup terbuka. Tapi sayangnya, ketika coba ditemui di kediamannya, orangnya sudah pindah ke Sidoarjo, sementara rumahnya dikontrakkan.

Tapi individu berinisial Ok, yang disebut-sebut sebagai gay, mengaku tidak pernah mendengar nama Luki. Ketika disinggung nama Aldo, dia mengaku pernah mendengar, kendati tidak pernah bertemu muka. “Ya dengar-dengar saja,” kata laki-laki berpenampilan ‘luwes’ dan berprofesi MC itu.

Ery, dari Jombang Care Center (JCC), sebuah LSM yang bergerak antara lain dalam pendampingan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta orang-orang berisiko tinggi terhadap
HIV/AIDS, dan banyak bergaul dengan komunitas gay dan waria, mengaku tidak pernah mendengar nama Luki.

“Kita memang belum menjangkau seluruh komunitas gay di wailayah Jombang, karena umumnya mereka sangat tertutup. Tapi dari yang sudah terjangkau pendampingan kami, rasa-rasanya tidak ada nama Lucky,” imbuh Ery.

Pun demikian dengan keluarga M Khambali alias Kemat terpidana pembunuhan berencana yang diduga menjadi korban salah tangkap dan tindak kekerasan aparat kepolisian Bandar kedung mulyo saat berlangsungnya proses penyelidiakan.

Ungkapan rasa lega, keluarga terpidana 17 tahun ini, praktis saja tak berubah, saat tersiar kabar bahwa Asrori ternyata ada dua.

Pihak keluarganya mengaku hanya bisa pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kebenaran, disaat pihak kepolisian masih menyembunyikan 'kebohongan'.

“Mau bagaimana lagi mas, padahal jelas-jelas Asrori itu Aldo warga Kalang semanding sini. Demi Allah tidak ada warga sini yang bernama Asrori alias Luki. Ini jelas mengada-ada,” ujar Eka Lisnawati (22) keponakan Kemat, pasrah, saat dihubungi Duta, kemarin.

Pun demikian, kepasrahan Eka Lisnawati yang biasa di panggil Elis ini, tetap tak serta-merta harus diam diri. Sebab, setelah tersiar kabar bahwa ada dua nama Asrori yang sama, yakni Asrori alias Aldo dan Asrori alias Luki. Membuat pihak keluarganya semakin tak terima.

Elis menganggap apa yang sudah dirilis oleh pihak Polri tersebut, mengada-ada. Bahkan, pihaknya sama sekali tak yakin, jika Kemat di tuduh telah membunuh Asrori alias Aldo yang sudah diakui Ryan itu.

“Kalau tes DNA sudah dianggap tak ilmiah, mau bagaiman lagi, karena kita ini rakyat kecil yang tidak punya apa-apa,” ucapnya singkat.(ami)

Di Balik Tragedi Pembunuhan Jombang II

Korban Salah Tangkap Akui Pernah Mencoba Bunuh Diri

JOMBANG - Sikap 'Arogan' Petugas Mapolsek Bandar kedung mulyo, Perak, Jombang akhirnya pecah. Imam Khambali alias Kemat (25) warga Kalang semanding, yang ditangkap lantaran dituduh telah membunuh Asori alias Aldo (30), melawan siksaan petugas dengan percobaan bunuh diri.

Praktis, hal ini membuat Kemat harus beristirahat di Puskesmas Bandar selama satu hari, setelah kemudian diboyong pulang oleh pihak keluarga untuk beristirahat.

Imam Khambali alias Kemat, salah satu dari dua terpidana atas pembunuhan berencana terhadap Asrori mengaku, tak tahan dengan pukulan dan siksaan dari petugas kepolisian di Mapolsek Bandar kedung mulyo. Dirinya pernah mengatakan, jika pernah mencoba bunuh diri dengan meminum sprite yang dicampur dengan obat flu.

Kepada Sumarmi (45) Kakak Ipar pertamanya, Kemat mengaku, jika ia nekat melakukan aksi bunuh diri itu karena sudah tidak tahan lagi menghadapi siksaan 5 petugas yang memukulinya saat berada di Mapolsek Bandar.

“Aku isin Yu, aku nek di lokno tonggo-tonggo piye ? padahal aku iki temen-temen ora mateni Asrori. (Saya malu Mbak, Kalau saya nanti di caci-maki sama para tetangga bagaimana ? Padahal saya ini benar-benar tidak membunuh Asrori,” ucap Kemat, yang saat itu terbaring lemas di ruang rawat inap Puskesmas Bandar, pada Sumarmi.

Dikatakan Istri Kadori (50), saat berada di Puskesmas Bandar Kedung Mulyo, kondisi Kemat sudah sangat lemas dan sama sekali tidak kuat untuk di buat bergerak. Bagian wajah adik bungsu suaminya itu juga terdapat beberapa luka memar. “Termasuk di bagian pelipis mata kirinya lebam dan kondisi tubuhnya juga ringkih,” kata Sumarmi, pada Duta,saat ditemui di rumahnya, Kemarin (31/08).

Bukan hanya itu, saat Sumarmi memegang pergelangan tangan Kemat. Ia langsung terkaget saat melihat bagian tangan adik bungsunya yang gemar merias ini, terdapat bekas sayatan benda tajam.
“Ada bekas sayatan dipergelangan tangan kirinya,” tutur Sumarmi.
Sebelumnya hal yang sama juga pernah dikatakan oleh Ibu Kemat, Watini (70) yang kini mengalami lumpuh layu, akibat terlalu letih memikirkan anak bungsunya, yang sedang mendekam dibalik jeruji besi Lapas Jombang.

Kabar seputar Kemat, yang sebelumnya sudah di bawa Polisi Bandar dan tidak boleh dijenguk selama 2 minggu itu, mendadak tergeletak di puskemas. Watini yang pada waktu itu ditemani oleh beberapa anaknya, tak kuasa menahan tangis saat mendapati Kemat sudah tak sadarkan diri.

“'Aku di gebuki limo pulisi, aku dipulosoro koyok kewan mak,' aku pingin mati wae. (Saya di pukuli polisi, saya di aniaya seperti hewan Bu, saya ingin mati saja),” ujar Watini, menirukan perkataan Kemat, saat dijenguk di puskesmas Bandar.

Dengan mata berkaca-kaca, Ibu 7 anak ini kembali menceritakan saat Kemat di ambil paksa oleh Polisi Bandar kedung mulyo. Saat ia dan keluarganya sedang terjaga dalam tidur, ia baru menyadari jika Kemat anak bungsunya sudah tidak ada dirumah.

“Jam 01.00 pagi habis sahur di bawa polisi naik mobil,” katanya.

Watini yang kala itu ditemani beberapa anaknya, langsung mendatangi Polsek Bandar guna mengklarifikasi seputar penangkapan bungsunya itu. Namun, niat Watini ini pun urung, setelah pihak polisi tak memperbolehkannya menjenguk Kemat di tahanan.

“Hampir 2 minggu semua keluarga tidak boleh melihat Kemat, kata petugas kalau sudah sampai di Polres saja baru boleh di jenguk,” ujar perempuan paru baya ini, menirukan perkataan petugas.

Kendati begitu, keluarga Kemat berharap bahwa anak bungsu dari 7 bersaudara pasangan Watini dan Kamin ini, menginginkan agar secepatnya anaknya di bebaskan. Sebab, menurut Watini, anaknya tidak mungkin melakukan pembunuhan terhadap Asrori yang notabene masih mempunyai hubungan keluarga. “Saya yakin Kemat itu difitnah,” yakinnya.

Kata Dari Balik Penjara

Sementara, pengakuan Very Idham Henyansyah alias Ryan (30) dan dan hasil tes DNA Polda Jatim yang menyatakan bahwa mayat Mr X yang ada dibelakang rumah mantan guru ngaji Dusun Maijo Desa Jatiwates Kecamatan Tembelang adalah M Asrori (21) membuat Siti Rohana (38) bisa bernafas lega.

Dengan begitu, tuduhan terhadap Devid Eko Prianto (19) yang tidak lain adalah anak pertamanya bisa termentahkan. Sebenarnya, jauh sebelum hasil tes DNA dan pengakuan Ryan muncul ke publik, Siti yakin jika Devid tidak pernah terlibat dalam kasus pembunuhan itu.

Kenyataan itu didasarkan pada keseharian anaknya yang cukup pendiam. Sudah begitu, pihaknya juga pernah menerima surat pengakuan dari Devid yang ditulis dari balik jeruji besi. Surat tulisan tangan itu ia terima seminggu setelah palu hakim diketuk. Tepatnya ketika Siti dan keluarga membesuk alumnus SMK PGRI 1 Kertosono di lapas Jombang.

Dalam surat yang ditulis dengan bahasa yang sederhana itu Devid mengungkapkan jeritan hatinya. Siksaan demi siksaan yang dilakukan selama penyidikan di Polsek Bandar Kedungmulyo tergambar jelas dalam goresan pena itu.

Bahkan diakhir tulisannya, bocah kelahiran 13 Desember 1988 ini berani bersumpah demi Allah dan Al-Qur’an bahwa dirinya tidak pernah melakukan tindakan keji itu. “Saya di paksa oleh polisi untuk mengakuinya,” tulis Devid.

Dalam surat yang masih disimpan oleh Siti Rohana tersebut, Devid juga mengaku telah di pukuli sampai babak belur dan ditodong pistol oleh salah seorang anggota polsek Bandar Kedungmulyo. Todongan senjata api itu diarahkan tepat di perut dan kepalanya.

Siti yang ditemui dirumahnya Desa Pagerwojo Kecamatan Perak, Jombang, sangat menyayangkan vonis 12 tahun yang telah diketuk oleh hakim. Petaka itu berawal dari penyidikan polisi yang meyakinkan bahwa Devid – Kemat (Imam Hambali) adalah pelaku pembunuhan di kebun tebu.

Berkas perkara pun mengalir ke kejaksaan, lalu menggelinding ke pengadilan. Di Pengadilan Negeri Jombang Devid di vonis 12 tahun dan Kemat diputus 17 tahun penjara. Praktis, sejak 8 Mei 2008 kedua warga Kecamatan Perak ini resmi menjadi penghuni lapas Jombang.

Perempuan berambut ikal ini masih ingat siasat licik polisi terhadap Devid sehingga anaknya seolah-olah terlibat dalam kasus tersebut. Saat itu, anak pertamanya itu sedang minum kopi di warung pinggir jalan yang tak jauh dari rumahnya.

Tak berselang lama ada salah seorang anggota polsek Bandar Kedungmulyo menghapiri Devid. Oleh polisi anaknya diberi uang sebesar Rp 20 ribu dan disuruh meninggalkan Jombang. “Sekitar seminggu setelah lebaran tahun 2007,” tambahnya.

Dikatakan Rokhanah, usai ditangkap, Devid ditahan di Polsek Bandarkedungmulyo dan pihak keluarga tidak boleh menjenguk sampai anak sulungnya itu di pindah ke Mapolres Jombang.

Senada AL (22), teman dekat Devid juga menguatkan kronoligis penangkapan yang sudah diceritakan Rokhanah itu. Dikatakan dia, penangkapan itu dilakukan oleh dua oknum polisi bandar yang biasa mangkal di warung tersebut.

“Saat ngopi bareng, Devid dikasih uang, tapi saya tidak tahu kalau ujung-ujungnya seperti itu,” ujar Al singkat.

Kendati demikian, Al mengaku tidak tahu apa-apa seputar pemberian uang Rp 20 ribu itu. Sebab, saat itu dirinya hanya menganggap hal itu juga sering terjadi di antara pemuda yang lainnnya.

Diketahui sebelumnya, saat berada di Lapas Jombang, baik Kemat maupun Devid tidak yakin jika mayat yang berada di kebun tebu itu adalah jasad Asrori. Sudah begitu, ia juga merasa tidak melakukan pembunuhan terhadap Asrori yang notabene tetangganya sendiri. Padahal, saat ini kedua warga Desa Kalang Semanding, Kecamatan Perak itu meringkuk di balik jeruji LP (Lembaga Pemasyarakatan) Jombang. Terlebih keduanya, mengaku bahwa ia dipaksa polisi pada saat dirinya berada di Polsek Bandar Kedungmulyo untuk mengakui jika keduanya telah membunuh Asrori alias Aldo (22) warga Kalang semanding itu.(ami)

8.30.2008

Jerit Hati Dibalik Jeruji

Devid Surati Keluarga, Kemat Mencoba Bunuh Diri

“Saya bernama Devid Eko P menyatakan bahwa saya tidak tau dan tidak melakukan perbuatan pembunuhan terhadap Muh Asrori.

Dan saya berani bersumpah demi Allah, demi Al-Qur'an, dan demi langit dan bumi saya benar-benar dan sejujurXXnya tidak melakukan semua, dari awal sampai ahkir.

Saya tidak kuat atas pukulan bapak pulisi bandar. Saya dipukuli sampai babak belur dan bahkan bapak pulisi menodongkan pistolnya ke perut saya dan ke kepala saya.

Dan akhirnya saya asa-asalan menjawab keterangan palsu lantaran saya dipukulin terus bertubi2 tiada henti.

Dan wakti saya disidik sama Imam Khambali saya dipaksa untuk megakuinya padahal didalam hati saya tidak berbuat apa-apa.

Dan waktu rekontruksi saya merasa tidak melakukan itu. Semua yang saya lakukan hanyalah unsur paksaan. Dan waktu saya dipertemukan sama Sugik saya disuruh jawab "ya".

Dan waktu sidang saya dihasut orang untuk melibatkan Maman Sugianto ikut dalam pembunuhan ini. Padahal yang sebenarnya saya tidak tau apa-apa dan tidak mengerti apa-apa.

Saya berani disumpah apapun dan disaksikan kedua orang tua saya dan keluarga saya. Saya benar-benar tidak tau dan tidak melakukan pembunuhan ini”.

Itulah penggalan dari sepucuk surat dari balik terali besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas Jombang). Dimana Devid Eko P dan M Khambali alias Kemat menghabiskan waktunya selama satu tahun usai di vonis membunuh Asrori alias Aldo (24), warga Desa Kalang semanding, Perak, Jombang.


Praktis, secuil harapan 'aroma bebas' dari 2 terpidana yakni M Khambali alias Kemat dan David Eko Prianto ini, juga dirasakan oleh sejumlah kerabat dekatnya, usai tuduhan terhadap Devid Eko Prianto (19) yang tidak lain adalah anak pertama dari pasangan Siti Rokhanah (38) dan Agus Sunarto (42), adalah korban salah tangkap polisi.

Sebenarnya, jauh sebelum hasil tes DNA dan pengakuan Ryan muncul ke publik, Siti yakin jika Devid tidak pernah terlibat dalam kasus pembunuhan itu. Kata dia, kenyataan itu didasarkan pada keseharian anaknya yang cukup pendiam. Sudah begitu, pihaknya juga pernah menerima surat pengakuan dari Devid yang ditulis dari balik jeruji besi.

“Saya yakin, anak saya tidak bersalah,” ujar Siti, getir saat ditemui Duta di rumahnya, kemarin.

Goresan hati Devid atas pengakuannya dalam kasus pembunuhan Asrori, yang membuatnya mendekam di balik jeruji besi lapas Jombang, ditulis di sebuh secarik kertas. Tulisan tangan itu ia terima seminggu setelah palu hakim diketuk. Tepatnya ketika Siti dan keluarga membesuk alumnus SMK PGRI 1 Kertosono di lapas Jombang.

Dalam surat yang ditulis dengan bahasa yang sederhana itu Devid mengungkapkan jeritan hatinya. Siksaan demi siksaan yang dilakukan selama penyidikan di Polsek Bandar Kedungmulyo tergambar jelas dalam surat itu.

Bahkan diakhir tulisannya, bocah kelahiran 13 Desember 1988 ini berani bersumpah demi Allah dan Al-Qur’an bahwa dirinya tidak pernah melakukan tindakan keji itu.

“Saya di paksa oleh Bapak pulisi untuk mengakuinya,” tulis Devid, dalam lembaran kertas tersebut, polos.

Bukan hanya itu, dalam surat yang masih disimpan oleh Siti Rohana tersebut, Devid juga mengaku telah di pukuli sampai babak belur dan ditodong pistol oleh salah seorang anggota polsek Bandar Kedungmulyo. Todongan senjata api itu diarahkan tepat di perut dan kepalanya.

Siti yang ditemui dirumahnya Desa Ngemplak Kecamatan Perak, Jombang sangat menyayangkan vonis 12 tahun yang telah diketuk oleh hakim. Petaka itu berawal dari penyidikan polisi yang meyakinkan bahwa Devid – Kemat (Imam Hambali) adalah pelaku pembunuhan di kebun tebu.

Berkas perkara pun mengalir ke kejaksaan, lalu menggelinding ke pengadilan. Di Pengadilan Negeri Jombang Devid di vonis 12 tahun dan Kemat diputus 17 tahun penjara. Praktis, sejak 8 Mei 2008 kedua warga Kecamatan Perak ini resmi menjadi penghuni lapas Jombang.

Perempuan berambut ikal ini masih ingat siasat licik polisi terhadap Devid sehingga anaknya seolah-olah terlibat dalam kasus tersebut. Saat itu, anak pertamanya itu sedang minum kopi di warung pinggir jalan yang tak jauh dari rumahnya.

Tak berselang lama ada salah seorang anggota polsek Bandar Kedungmulyo menghapiri Devid. Oleh polisi anaknya diberi uang sebesar Rp 20 ribu dan disuruh meninggalkan Jombang. “Tepatnya sekitar seminggu setelah lebaran tahun 2007,” tambahnya.

Tanpa pikir panjang Devid mengiyakan permintaan polisi tersebut. Dan pergi ke rumah neneknya yang ada di Tuban.

Sebab, menurutnya, hakim lebih percaya pada ‘cerita’ polisi dari pada kejujuran Devid. mengaku, surat yang sudah tiga bulan tersimpan di almarinya itu ia dapatkan pada saat dirinya membesuk Devid di lapas Jombang.

“Seminggu setelah vonis 12 tahun diterima Devid, saya mengunjunginya di lapas dan dia memberikan surat ini kepada saya,” kenang Siti dengan mata berkaca-kaca, Jumat (29/08/2008) sore tadi.

Devid diganjar hukuman 12 tahun penjara karena terbukti terlibat dalam aksi pembunuhan terhadap mayat dikebun tebu yang diduga M Asrori.

Yang lebih mengejutkan lagi, bocah kelahiran 13 Desenber 1988 ini pernah mengirimkan surat pengakuan kepadanya semiggu setelah di di tahan di balik jeruji besi Lapas Jombang.

Kemat Pernah Coba Bunuh Diri

Sementara hal yang sama juga di rasakan oleh keluarga M Kambali alias Kemat terpidana 17 tahun ini. Ibu Kemat, Watini (70) yang kini mengalami lumpuh layu, tetap tak bisa membendung perasaan sedihnya saat mendengar kabar bahwa Kemat, dirawat di puskesmas Bandar karena mencoba bunuh diri dengan minum Baygon.

Dengan mata memerah Watini menceritakan, kala anak bungsunya itu diopname selama 3 hari di Puskesmas bandar setelah mencoba bunuh diri akibat tak kuasa menahan rasa sakit akibat pukulan petugas.

Dikatakan Watini, setelah 2 minggu lamanya tidak bertemu dengan anaknya, lantaran ditahan Polisi Bandar. Lantas kemudian salah seoarang petugas polsek menelfon pihak keluarga. Saat itu pihaknya di kabarkan bahwa Kemat sedang dirawat inap di Puskesmas Bandar, tak jauh dari Mapolsek.

“Ada yang menelfon katanya Kemat sakit parah,” ujarnya.

Praktis, kabar itupun langsung ia sambut dengan menjenguk Kemat di puskemas. Sesampai disana, Watini yang pada waktu itu ditemani oleh beberapa anaknya, tak kuasa menahan tangis saat mendapati Kemat sudah tak sadarkan diri, tergolek lemas di ruang inap.

“Saya sampai tak tega mas, ada bekas gosong di pelipis mata kirinya. Saat saya tanya katanya telah dipukuli oleh polisi,” kenangnya getir.

Diceritakan dia, saat Kemat di ambil paksa oleh Polisi Bandar kedung mulyo. Saat itu ia dan keluarganya sedang terjaga dalam tidur. Saat mendengar terikan, ia pun sontak kaget mendapatai beberapa petugas menggedor pintu rumah Kemat yang berada di sebelah barat. “Buka-buka” tiru Watini.

Tepat pukul 01.00 dini hari, Kemat pun langsung diambil paksa dan di naikkan mobil menuju Mapolsek bandar kedung mulyo.

Tak terima dengan hal itu, Watini yang kala itu ditemani oleh Kamin (90) sumianya, langsung mendatangi Polsek Bandar guna mengklarifikasi seputar penangkapan anaknya. Sesampai disana, pihaknya hanya bisa pasrah, lantaran tak di perbolehkan sama sekali menjenguk Kemat di tahanan.

“Hampir 2 minggu semua keluarga tidak boleh melihat Kemat, kata petugas kalau sudah sampai di Polres saja baru boleh di jenguk,” ujar perempuan paru baya ini, menirukan perkataan petugas.

Demikian dengan Zeni Rohman (22) keponakan Kemat, yang pernah membantu terpidana salah tangkap itu bekerja di salon. Sebelum akhirnya ia lebih memilih mencari kerja di Suarabaya di Bengkel Mobil. Saat hari raya idul Fitri, ia pun pulang ke Jombang, ia sudah tak mendapati Kemat berada di Rumah.

Sontak kabar inipun membuat dia kaget. Pasalnya, Zeni tak percaya jika Metti (panggilan perempuannya Kemat) yang dikenal sebagai anak penakut. Bisa berbuat kejam dengan membunuh tetangganya sendiri Asrori.

Lantaran Zeni yang sudah mengenal dekat sikap Kemat, lantas tak bigitu percaya. Ia pun nekat menjenguk Kemat sendirian di Mapolsek. Begitu sampai disana, ia tetap tak diperbolehkan bertemu dengan pamannya itu.

“Saya tanya sama petugas, apa patugas berani jamin keselamatanya, kok tidak boleh di lihat?” tukas Zeni pada petugas.

Menariknya, pertanyaan Zeni pun dijawab dengan senyum oleh petugas. Zeni menceritakan, jika saat itu petugas hanya menjawab “Tidak apa-apa tenang saja,” kata Zeni, menirukan salah satu petugas.

Kendati begitu, keluarga Kemat berharap bahwa anak bungsu dari 7 bersaudara pasangan Watini dan Kamin ini, menginginkan agar secepatnya anaknya di bebaskan. Sebab, lanjut Zeni, Kemat adalah satu-satunya tulang punggung keluarga.

“Kasihan ibunya yang sudah lumpuh ini mas, saya harap pihak polisi melakukan tugas dengan benar, sehingga tidak terjadi salah tangkap lagi,” pinta Zeni.

Sebelumnya, pengakuan mengejutkan terlontar dari Imam Chambali alias Kemat (30), dan Devid Eko Priyanto (23), dua terpidana kasus pembunuhan Asrori yang masing-masing diganjar hukuman 17 dan 12 tahun penjara.

Kedua orang ini tidak yakin jika mayat yang berada di kebun tebu itu adalah jasad Asrori. Sudah begitu, ia juga merasa tidak melakukan pembunuhan terhadap Asrori yang notabene tetangganya sendiri. Padahal, saat ini kedua warga Desa Kalang Semanding, Kecamatan Perak itu meringkuk di balik jeruji LP (Lembaga Pemasyarakatan) Jombang.

Baik Kemat maupun Devid, munculnya pengakuannya itu dipicu oleh pemaksaan dan kekerasan yang telah dilakukan oleh polisi pada saat dirinya berada di Polsek Bandar Kedungmulyo. Kemad dan Devid mendapat tekanan baik yang bersifat mental maupun fisik. Tidak tanggung-tanggung, kedua warga Kalang Semanding ini pernah di hajar menggunakan ‘ban belt’ mesin diesel. Bukan hanya itu, ia juga sempat ditodong senapan oleh salah seorang anggota Polsek Bandar Kedungmulyo.

“Maka dengan terpaksa saya mengaku,” tutur Kemat saat ditemui di kalapas Jombang.(ami)

8.28.2008

Salah Tangkap, Sejumlah Anggota Polres Jombang Dipanggil Polda


Salah Tangkap, Sejumlah Anggota Polres Jombang Dipanggil Polda

JOMBANG – Kapolres Jombang AKBP M Khosim beserta jajarannya, Kamis (0/0) malam, berangkat ke Polda Jawa Timur. Kepergian jajaran Polres Jombang itu, terkait dengan dugaan salah tangkap dan salah identifikasi yang dilakukan Polres Jombang.

Menurut Kapolres Jombang AKBP M Khosim sesaat sebelum diberangkatkan ke Polda Jatim menyatakan menolak dikatakan pemeriksaan. Dirinya menganggap bahwa hal tersebut, lebih bersifat koordinatif.

“Tidak ada pemeriksaan, kami hanya memberi penjelasan,” elak M Khosim, dihadapan wartawan, Kamis (28/8/), kemarin.


Sebelum keberangkatan, tepat pukul 19.00. Sebanyak 5 orang lebih menjalani pemeriksaan di ruangan tertutup Unit Pelayanan Pengaduan Penegakan Disiplin (P3D) Mapolres Jombang. Di ruang tertutup rapat tersebut, ada beberap petugas dari pihak polres jombang yang sedang menjalani pemeriksaan. Diantaranya, mantan Kapolsek Bandar Kedungmulyo AKP Anang Iswahyudi, mantan Kasatreskrim AKP Irfan, yang saat ini menjabat sebagai Kapolsek Plandaan. serta salah satu anggota intel Polsek Bandar kedung mulyo.

Usai menjalani pemeriksaa selama 30 menit, rombongan pun berangkat. Meski dari mereka tak mau diwawancarai, wajah mereka terlihat memerah sebelum masuk mobil dan berangkat tepat pukul 19.30, menuju Mapolda Jatim.

Kapolres Jombang AKBP M Khosim dan Kasatreskrim AKP Kasiyanto, juga turut dibawa, bersamaa dengan sejumlah berkas penyidikan terkait dengan penemuan mayat di Kebun Tebu 2007 lalu.

Sepeti diketahui sebelumnya, AKBP Susanto Kasatpidum Ditreskrim Polda Jatim mengatakan, bahwa terkait dengan kasus salah tangkap yang dilakukan oleh jajaran Polres Jombang, yang memvonis 3 terpidana atas pembunuhan Asrori, akan segera diselidiki sesuai dengan jalur hukum yang berlaku.

Menurut Susanto, untuk mengngungkap dan menyelidiki benar tidak-nya ada salah tangkap. Pihak Mapolda akan menyiapkan tim Khusus untuk melakukan invetigasi atas kasus Mr X 2 itu.

“Kalau ada, sangsinya jelas sesuai dengan hukum yang berlaku, makanya tim itu nanti terdiri dari Polda Jatim, dan Polda Metrojaya,” ujar Susanto.

Seperti diketahui sebelumnya, Polisi diduga telah salah tangkap dalam penyidikan kasus pembunuhan terhadap Asrori alias Aldo. Korban diduga kuat bukan dibunuh oleh Imam Hambali alias Kemat (26) yang akhirnya divonis 17 tahun penjara dan David Eko Prianto, yang dihukum 12 tahun penjara, serta satu orang lagi yakni Maman Sugianto alias Sugik yang sedang menjalani proses persidangan. Aldo diduga merupakan salah satu korban pembantaian yang dilakukan Very Idam Henyansyah alias Ryan (30).(ami)

Teka-Teki Mayat Asrori

Antara Hasil DNA Dan Fakta Dilapangan

JOMBANG – Terbongkarnya mayat Mr X yang menjadi korban kekajaman Very Idam Henyansyah alias Ryan, (30), adalah Asrori alias Aldo (24), warga Desa Kalangsemanding Kecamatan Perak, Jombang. Terus memunculkan kontroversi. Setidaknya, pihak Polres Jombang, tetap ngotot jika mayat Mr X-2 yang diketemukan di kebun tebu adalah benar-benar Asrori.

Bahkan, pihak keluarga Asrori, masih tetap yakin bahwa mayat yang menyeret 3 orang ke sel tahanan tersebut adalah anggota keluarganya.

Bagimana tidak? Keyakinan pihak keluarga Asrori ini seolah tetap tak terbantahkan. Ditambah lagi, alibi pihak Polres Jombang yang memvonis bahwa mayat dikebun tebu (mr X-2) adalah Asrori, kendati dari hasil tes DNA Polda Jatim membuktikan berbeda.


Kapolres Jombang, AKBP M Khosim, saat dimintai tanggapan, tetap tidak mau banyak berkomentar. Hanya saja, Khosim menyatakan, bahwa pada saat kasus tersebut terjadi, ia belum menjabat sebagai Kapolres Jombang.

Dikatakan Khosim, dirinya hanya mendapatkan limpahan kasus lama yang sudah berjalan pada saat ia menjabat sebagai Kapolres Jombang pada awal tahun 2008.

“Yang pasti, bahwa mayat dikebun tebu itu adalah Asrori. Itu berdasarkan fakta hukum dan bukti-bukti yang kita dapatkan dilapangan. Semisal, ditemukannya pisau, jaket, baju dan lain sebagainya di TKP,” ujar M Khosim seusai pembongkaran kuburan Mr X-2 yang di duga Asrori, Kamis Sore (28/08/), kemarin.

Selain sesuai dengan fakta dan bukti yang sudah diidentifikasi petugas. Khosim juga beralasan, bahwa vonis mayat Mr-X2 itu adalah Asrori, muncul dari pengakuan pihak keluarga yang menyebut bahwa ciri-cirinya sesuai dengan Asrori. Yakni mempunyai gigi gingsul dan kaki lecet bekas terkena knalpot.

“Berdasarkan ciri-ciri mayat Mr X-2, pihak keluarga mengakui kalau itu mayat Asrori,” katanya

Khosim menambahkan, pihaknya telah melakukan proses penyelidikan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Berbagai bukti dan fakta yang ada dilapangan kuat dugaan bahwa mayat Asrori adalah mayat yang ditemukan di kebun tebu.

Sementara Mantan Kapolsek Bandar kedung Mulyo, Untung Iswahyudi yang menjadi tanggung jawab seputar penemuan mayat di wilayah hukumnya. Lebih memilih bungkam, hanya saja ia menyatakan bahwa proses tersebut sudah ia limpahkan ke Polres. Bahkan dirinya membantah jika telah melakukan penyiksaan terhadap 3 tersangka pembunuh Asrori itu.

“Siapa bilang kita sudah sesuai prosedur dan kita tidak salah tangkap, itu semua ada buktinya,” elak Untung, sembari menghindar dari kejaran wartawan.

Pun demikian, keyakinan pihak Polres Jombang itu akhirnya terpatahkan setelah Kasi Pidum Ditreskrim Polda Jatim, AKBP Susanto mengatakan, mayat Asrori yang sesungguhnya adalah yang terkubur dibelakang rumah Very Idam Henyansyah alias Ryan (30).

Berdasarkan Tes DNA yang digelar oleh Polda Jatim, mayat Mr X-1 sangat cocok dengan keluarga Asrori yang beralamat di Dusun Kalangan, Desa Kalangsemanding Kecamatan Perak, Jombang. Menurutnya, mayat Mr X-2 yang di ketemukan Polres Jombang di kebun tebu di Desa/Kec. Bandarkedungmulyo pada September 2007 lalu bukan mayat Asrori.

Dikatakan Susanto, bahwa Polda Jatim sudah berkesimpulan final, jika mayat ke 11 yang dibantai oleh sang penjagal itu adalah Moch Asrori (24), yang sebelumnya diyakini tewas dikebun tebu pada September 2007.

Menurut Pria berkepala plontos ini, kalau tes DNA mayat Mr X sebagai Asrori itu diperoleh setelah pemeriksaan DNA dari sampel darah yang diambil dari Djalal, Bapak Asrori dan Ibu Asrori, Dewi Mutari.

"Ini Ilmiah dan 99,99 persen tes DNA itu benar," ujar Susanto saat berada di lokasi.

Lantas mengenai mayat Mr X-2 yang ditemukan dikebun tebu yang diduga Asrori itu siapa ? Baik Susanto maupun Khosim tetap tak mau buka mulut. Kedunya hanya meyerahkan sepenuhnya dari hasil tes DNA yang bakal dilakukan di Polda.

Keduanya mengatakan, akan membawa keluarga Asrori ke Mapolda Jatim, untuk di uji ulang apakah Mr X-1 dan Mr X-2 itu sama-sama Asrori.

“Kita belum tahu, kita tunggu saja hasil tes DNA-nya," sahut Pria pelontos ini, saat berjalan keluar berdampingan dengan Kapolres Jombang.

Kontroversi Meluas

Sementara kontoversi seputar Asrori Asli dan Asrori Palsu juga tetap bergulir di masyarakat luas. Kerabat dekat Asrori alias Aldo (24), yang keduanya disebut Mr X ini tetap yakin bahwa mayat Mr-X2 adalah Asori.

Paman Asrori, Jaswadi (40) misalnya, tetap meyakini bahwa mayat yang baru dibongkar oleh petugas itu adalah keponakannya yang sempat menghilang setahun lalu. Bahkan, kata dia, ciri-ciri Asrori, yakni pada betis kaki yang terdapat warna gosong bekas terkena knalpot serta tengkorak gigi. Adalah ciri-ciri Asrori asli.

“Ini Asrori, yang dibunuh 3 orang itu, bukan Mr X yang ditemukan di rumah Ryan,” katanya.

Sontak pengakuan itu juga berbeda dengan yang dilontarkan oleh tetangga dekat Asrori. Menurutnya, saat mayat Mr X-2 pertama kali ditemukan dikebun tebu Dusun Bra'an Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo itu, wajahnya nyaris tak bisa di kenali lagi. Selain, jasad tersebut sudah membusuk, pada bagian wajahnya juga menghitam karena tersiram oli.

"Yang saya tahu wajahnya sudah membusuk dan hitam karena oli," ujar Imam Sigiharto lurah Kalang semanding, ini.

Ia meyakini, bahwa saat mayat tersebut ditemukan, ada beberapa kejanggalan mengenai ciri-ciri Asrori asli. Menurut Imam, mayat yang ditemukan di kebun tebu tersebut mempunyai gigi tongos, bukan ginsul. Selain itu, ia juga mengaku ragu jika dua warganya itu terlibat dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Asrori.

Terlepas dari itu semua, warga Dusun Kalangan meyakini jika Asrori menghilang dari rumah pada bulan puasa tahun 2007. Tepatnya, saat puasa ramadhan berjalan seminggu. Setelah itu, pria yang kesehariannya berjualan pulsa itu tak karuan rimbanya.

“Kabaranya seminggu kemudian ada penemuan mayat dikebun tebu Dusun Bra'an yang diyakini sebagai mayat Asrori,” ujar Syamsul Huda, tetangga sebelah rumah Asrori saat di temui Duta di rumahnya. (ami)

Kapolri Siap Beri Sanksi

JAKARTA - Mabes Polri merespon polemik pengakuan Ryan yang menyebut korban pembantaian ke-11, Mr X, adalah Asrori alias Aldo. Bila benar Mr X yang jenazahnya masih di kamar mayat RS Bhayangkara Polda Jatim itu Aldo, polisi akan membongkar kuburan jenazah yang semula diyakini sebagai Asrori di Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Polisi juga akan menyelidiki kasus salah tangkap yang diduga dilakukan aparat tersebut.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira saat dihubungi di Jakarta, Rabu (27/8), membenarkan ada dugaan korban ke-11 Ryan adalah Aldo, yang semula diyakini merupakan korban pembunuhan yang mayatnya dibuang di sebuah kebun tebu di Jombang, dua tahun lalu.

“Kalau nanti jenazah itu benar adalah Aldo, maka kuburan korban pembunuhan di kebun tebu (Mr X 2) di Jombang itu akan dibongkar,” ujar Abubakar.

Selanjutnya dia menambahkan, jenazah korban Mr X yang ditemukan di pekarangan rumah orang tua Ryan ini dicocokkan DNA-nya dengan keluarga Aldo.

“Jika cocok DNA-nya, maka jenazah yang sebelumnya dinyatakan sebagai Aldo akan dibongkar kembali dan kasusnya akan disidik dari awal,” ujar Abubakar.

Kasus yang menghebohkan dunia hukum ini diduga karena polisi melakukan salah tangkap. Bukan hanya itu, polisi juga memaksa tersangka “yang kini sudah divonis oleh pengadilan” agar mengaku telah melakukan pembunuhan tersebut.

Pengakuan itu lalu di-BAP hingga kasusnya dibawa ke Pengadilan. Lalu Pengadilan Negeri Jombang menjatuhkan hukuman terhadap dua dari tiga tersangka yaitu Kemat dan David masing-masing 17 tahun dan 12 tahun penjara. Sedangkan satu tersangka lain masih menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jombang.

Kasus dugaan salah tangkap ini juga direspon Kapolri Jenderal Pol Sutanto. “Kalau ada salah tangkap, kan ada mekanismenya. Masyarakat bisa mengadukan, silakan ini kan masalah hukum,” kata Kapolri Jenderal Pol Sutanto di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (27/8) kemarin.

Sedang soal pemaksaan yang dilakukan polisi terhadap tiga orang agar mengaku membunuh Aldo, jika benar, Sutanto berjanji akan menindak tegas petugas tersebut.

“Kalau betul seperti itu, tidak dibenarkan. Kita tidak boleh lagi menggunakan cara itu. Akan ada tindakan untuk anggota yang melakukan itu,” katanya mengancam anak buahnya. (dumas/ami/wis/det)http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=753

Keluarga Kemat Tuntut Keadilan

Dihabisi Usai Lebaran

POLISI diduga telah salah tangkap dalam penyidikan kasus pembunuhan terhadap Asrori alias Aldo. Korban diduga kuat bukan dibunuh oleh Imam Hambali alias Kemat (26) yang akhirnya divonis 17 tahun penjara dan David yang dihukum 12 tahun penjara, serta satu orang yang sedang menjalani proses persidangan. Aldo diduga merupakan salah satu korban pembantaian yang dilakukan Very Idham Henyansyah alias Ryan (30).

Jenazah yang kini diduga Asrori itu sendiri dikenal sebagai Mr X karena Ryan lupa nama korbannya yang ke-11 tersebut. Jasad Mr X hingga sekarang masih disimpan di RS Bhayangkara Mapolda Jatim. Namun, dalam pengakuan terbaru kepada keluarganya yang menjenguk di tahanan Polda Metro Jaya, 17 Agustus lalu, Ryan mengungkapkan bahwa Mr X itu adalah Moch. Asrori (24), warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Ryan mengaku membunuh Asrori karena merasa terhina setelah Asrori yang dianggapnya pendek dan jelek, mengajaknya kencan. Di komunitas waria Jombang, Asrori biasa disapa Aldo.

Tentu saja pengakuan Ryan yang ditindaklanjuti Polda Jatim itu membuat keluarga Kemat semakin gigih mendesak polisi agar menguak kasus itu. Pasalnya, dalam berbagai pertemuan dengan Kemat, pria yang juga disebut

“sebut waria ini mengaku tidak pernah melakukan pembunuhan yang dituduhkan padanya tersebut. Kami harap polisi melakukan penyidikan ulang kasus pembunuhan Asrori dengan adanya pengakuan Ryan dan uji DNA ini,” kata Rina (35), kakak kandung Kemat.

Kemat kini meringkuk di LP Jombang setelah divonis sebagai pelaku utama pembunuhan mayat yang diyakini sebagai Asrori. Mayat itu ditemukan di kebun tebu di Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang.

Kemat divonis 17 tahun, sementara rekannya, David Eko Priyanto (17), divonis 12 tahun pada 8 Mei lalu karena ikut membantu pembunuhan. Satu tersangka lain yaitu Maman Sugianto alias Sugik (28), hingga sekarang masih menjalani proses hukum.

Keluarga Kemat yakin Kemat tidak bersalah. Saat keluarga membesuk di LP Jombang, Kemat berulang kali mengaku tidak pernah membunuh siapa pun. Menurut Alisa, keponakan Kemat, saat keluarga menjenguk di LP, dia mengungkapkan bahwa dirinya terpaksa mengaku sebagai pembunuh Asrori karena saat diperiksa dirinya mendapat siksaan polisi. Dia dipaksa mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.

“Lha dia itu punya sifat kewanitaan mana berani membunuh orang. Kena benturan fisik sedikit saja sudah tidak tahan. Pasti merasa kesakitan,” kata Alisa. Kemat, kendati berjenis kelamin laki-laki, sehari-hari memang berperilaku seperti perempuan sehingga digojloki waria.

Keluarga juga yakin Kemat hanya menjadi korban salah tangkap. Kasus salah tangkap ini juga memakan korban. Ibunya, Hartini, sangat memikirkan nasib Kemat hingga menderita darah tinggi.

“Sejak adik saya masuk penjara, ibu sakit-sakitan. Dan puncaknya beliau terkena stroke,” jelas Rina.

Ketua RT setempat, Sutrisno, saat dimintai tanggapan oleh wartawan sebelumnya mengungkapkan, masuk akal jika mayat yang ditemukan di kebun tebu Desa Bandarkedungmulyo pada 29 September 2007 (yang selama ini diyakini sebagai mayat Asrori) bukan mayat Asrori. Sebab, jelas Sutrisno, saat itu identifikasi mayat hanya berdasarkan ciri-ciri fisik atau tubuh.

“Sedangkan mukanya tidak dapat dikenali karena rusak. Posisi mayat saat ditemukan memang tertelungkup sehingga kemungkinan bagian muka sudah dimakan belatung lebih dulu,” kata Sutrisno.

Selain itu, lanjutnya, pakaian yang menempel pada mayat saat itu bukan pakaian yang biasa dipakai sehari-hari oleh Asrori.

“Tapi ini hanya pendapat pribadi saja. Untuk tindak lanjut kasus ini, saya menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum,” jelas Sutrisno.

Dibunuh Usai Lebaran

Sebelumnya, kerabat dekat Ryan, mengungkap informasi baru terkait kasus ini. Saat itu mereka menjenguk Ryan di Mapolda Metro Jaya, Minggu (17/8). Kepada keluarganya Ryan tiba-tiba mengaku juga membunuh Asrori alias Aldo beberapa minggu setelah mayat yang diyakini sebagai Asrori ditemukan di kebun tebu Desa Bandarkedungmulyo.

“Ryan mengaku membunuh Aldo sehabis Lebaran. Ryan bilang, “Aldo kan sudah dikabarkan mati, jadi saya bunuh saja dia sekalian',” kata sumber tersebut menirukan Ryan. Sumber itu juga membeberkan, sebenarnya orangtua Ryan sudah mengetahui identitas Mr X adalah Aldo alias Asrori melalui pengakuan anaknya, Ryan. Namun, saat diperiksa polisi, mereka tetap bungkam.

“Itu dilakukan mereka demi Ryan. Mereka khawatir kalau identitas Mr X diungkap, keamanan Ryan terancam karena akan membongkar salah tangkap pada kasus Asrori. Yang itu jelas menampar penegak hukum,” kata sumber dari kerabat Ryan yang tak mau disebut namanya itu.

Bahkan, sumber tersebut mengungkapkan, pengakuan terbaru Ryan telah tercantum dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) Ryan di Polda Metro Jaya. Berdasarkan catatan, Ryan sendiri pernah dimintai keterangan oleh kepolisian Jombang terkait pembunuhan Asrori. Namun, status Ryan hanya sebagai saksi setelah ditemukan barang milik Ryan yang dibawa korban.

Sementara itu, sumber di Polda Jatim menyebut, keterkaitan Ryan dengan Asrori soal kepemilikan sepeda motor. Katanya, salah satu barang bukti yang dimiliki korban saat itu adalah sepeda motor bebek.

“Sepeda motor itu adalah milik Ryan. Ini diketahui dari penelusuran STNK dan BPKB yang ada di Samsat,” ujarnya. Tapi oleh keluarga Asrori, sepeda motor itu diakui murni milik Asrori, bukan milik Ryan. Ryan sempat diperiksa oleh polisi kala itu.

“Dia (Ryan) diperiksa karena namanya tercantum sebagai pemilik sepeda motor itu,” tandas sumber itu. (ami/ri/kcm) http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=754

Polisi Salah Tangkap,Kubur 'Asrori' Dibongkar

SURABAYA - Geger salah tangkap yang dilakukan aparat Polres Jombang terkait kasus pembunuhan Asrori alias Aldo, akhirnya terjawab. Hal itu setelah Kasat Pidum Ditreskrim Polda Jatim, AKBP Susanto, memastikan, bahwa korban ke-11 tragedi pembantaian yang dilakukan Very Idham Henyansyah (Ryan) yang selama ini disebut sebagai Mr X, ternyata adalah Asrori (21).

Padahal kasus pembunuhan Asrori sendiri sudah menyeret dua orang, Imam Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko Priyanto (17), menjadi terdakwa. Bahkan, Kemat sudah dijatuhi hukuman 17 tahun penjara dan Devid 12 tahun penjara pada Mei 2008 lalu oleh Majelis Hakim PN Jombang. Satu lagi terdakwa bernama Maman Sugianto alias Sugik hingga sekarang masih dalam proses pengadilan.

“Ini untuk menjawab misteri Mr X, dari hasil tes dapat disimpulkan jenazah ke-11 korban pembunuhan Ryan adalah Asrori (Aldo),” kata Susanto di Mapolda Jatim, Rabu (27/8) kemarin.

Kepastian mayat Mr X sebagai Asrori itu diperoleh setelah pemeriksaan DNA yang hasilnya baru diketahui Rabu sore pukul 15.00 WIB menyusul pengambilan sampel darah yang dilakukan pada 22 Agustus pukul 22.00 WIB. Dari sampel darah ini diketahui ada keidentikkan DNA Mr X dengan DNA dari sampel darah yang diambil dari ibu Asrori, Dewi Mutari dan bapaknya, Djalal.

Menurut Susanto, dari penyidikan yang dilakukan Polda Metro Jaya, Ryan mengaku membunuh Asrori karena tersinggung dengan ucapan Asrori: “Apakah kamu kucing?”. Gara-gara omongan ini, Ryan marah hingga Asrori dipukul dengan menggunakan linggis pada kepala bagian belakang ketika berada di halaman belakang rumah Ryan, akhir tahun 2006 silam.

Sehubungan dengan terkuaknya identitas Mr X (Asrori), pihak Polda Jatim akan melakukan penggalian kembali terhadap kuburan jenazah yang pernah ditemukan di salah satu perkebunan tebu di Jombang. Sebab, jenazah tersebut selama ini telah dianggap sebagai jasad Asrori oleh pihak keluarganya.

“Mayat yang pernah ditemukan di kebun tebu itu sekarang menjadi Mr X (2),” katanya.

AKBP Susanto menambahkan, sebenarnya waktu menemukan jenasah Mr X di kebun tebu, pihak kepolisian dari Polres Jombang kesulitan melakukan identifikasi. Hal ini karena kondisi jenazah korban yang sudah rusak berat.

“Dilakukan sidik jari juga tidak bisa,” ungkapnya.

Namun, tanpa dilakukannya tes DNA, akhirnya pihak kepolisian Polres Jombang menyatakan jenazah tersebut adalah Asrori setelah ada pengidentifikasian dari pihak keluarga di mana pihak keluarga mengaku mengetahui kalau itu jenazah Asrori dari ciri-ciri yang dimiliki korban. Misalnya bekas luka bakar di kaki, gigi ginsul, bentuk dan rambut dan kuku. Ironisnya, keputusan kepolisian Polres Jombang itu ternyata salah setelah dilakukan tes DNA terhadap keluarga Asrori.

Tim Khusus

Terkait adanya salah tangkap yang telah dilakukan oleh tim penyidik Polres Jombang itu, Polda Jatim akan membentuk tim khusus yang bertugas meneliti dan memeriksa semua pihak yang menangani penemuan jenazah di kebun tebu. Termasuk juga Kapolres Jombang, AKBP Dwi Setyadi, yang saat itu sedang menjabat.

“Kasus Jombang akan diambil alih oleh Polda,” tegas Susanto.

Selain itu, tim khusus ini akan mendalami kasus tiga tersangka yang telah diduga melakukan pembunuhan terhadap korban yang jenazahnya dibuang di kebun tebu. Ketiga tersangka yang dimaksud adalah Maman Sugianto alias Sugik, Imam Hambali, dan David.

Sebelumnya di Jombang juga heboh ditemukan mayat di kebun tebu September 2007 lalu yang dikatakan sebagai mayat Asrori. Mayat ini ditemukan dalam keadaan sudah membusuk dengan sidik jari tak bisa teridentifikasi. Tiga orang yang akhirnya ditangkap dan ditetapkan sebagai pelaku masing-masing Imam Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko Priyanto (17), hingga keduanya dijatuhi hukuman oleh hakim PN Jombang, masing-masing 17 tahun dan 12 tahun pada Mei 2008 lalu. Satu lagi bernama Sugik, yang kasusnya masih dalam pelimpahan kasus di kejaksaan. Tiga orang ini mengaku dipaksa Polres Jombang untuk mengakui bahwa mereka pembunuh mayat di kebun tebu yang waktu itu dikira sebagai Asrori tersebut.

“Mereka juga mengaku disiksa oleh polisi agar mengaku,” kata salah seorang keluarganya, semalam.

Kini, dengan dipastikannya Mr X korban Ryan adalah Asrori, maka mayat di kebun tebu berubah jadi Mr X 2 sebab belum teridentifikasi. Status Mr X 2 ini sedang diselidiki lebih lanjut oleh Polda Jatim. Saat ini mereka sedang membentuk tim baru untuk mengetahui status mayat kebun tebu dan apakah ada keterkaitan juga dengan Ryan.

“Tim gabungan antara Propam, Bindokes dan Ditreskrim ini diketahui Kabid Binhum Polda Jatim, Kombes Pol Wisnu Gunadi,” katanya.

Seperti diketahui, dalam penggalian di belakang rumah orangtua Ryan di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, pada akhir Juli lalu, ditemukan 11 korban pembunuhan Ryan. Sepuluh korban sudah teridentifikasi, namun satu korban yang berjenis kelamin pria, masih belum dikenali sehingga disebut Mr X. Selama ini, kepolisian berkeyakinan bahwa Mr X bukanlah Asrori.

Dan, bersandar pada fakta-fakta persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jombang, polisi menegaskan bahwa yang beridentitas Asrori adalah mayat yang ditemukan di kebun tebu di Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, pada 29 September 2007. Intinya, Asrori yang asli bukanlah Mr X yang di rumah Ryan.

Terkait mayat Asrori yang di kebun tebu itu, dua orang sudah divonis dan dipenjara sebagai pelaku pembunuhan. Keduanya adalah Imam Hambali alias Kemat, 26, yang divonis 17 tahun dan Devid Eko Priyanto, 17, diganjar 12 tahun. Satu lagi pelaku yang masih tersangka, Maman Sugianto alias Sugik, sedang menjalani proses hukum. Ketiganya kini mendekam di LP Jombang.

Kejanggalan

Dhofir SH, penasihat hukum Sugik menuturkan, demi kepentingan pembelaan kliennya, pihaknya telah melakukan penelusuran terhadap kasus pembunuhan Asrori yang di kebun tebu itu. Dari penelusuran itu, Dhofir mendapati sejumlah kejanggalan, yang diyakininya bisa membebaskan kliennya. Termasuk Kemat serta David jerat hukum.

“Perlu digarisbawahi, upaya yang kami lakukan bukanlah untuk mencari-cari kesalahan pihak lain atau aparat penegak hukum. Kami hanya melihat, ada celah bahwa keadilan bisa lebih ditegakkan dalam kasus ini. Tapi jika nanti memang terbukti klien kami salah, ya silakan dihukum setimpal,” kata Dhofir.

Dhofir lantas memaparkan beberapa hal yang ia sebut sebagai kejanggalan terkait proses penyidikan kasus Asrori yang di kebun tebu itu. Di antaranya, ketika ditemukan mayat Asrori di kebun tebu itu, pihak keluarganya sempat ragu apakah benar itu Asrori keluarga mereka. Namun, setelah mengetahui ciri-ciri mayat itu dari giginya yang gingsul, kuku yang terawat dan bekas di betis akibat terkena knalpot, keluarga meyakini bahwa itu adalah mayat Asrori.

Hanya saja, hasil otopsi dokter di RSUD Jombang, kata Dhofir, agak berbeda. Gigi Asrori disebut merongos, bukan gingsul. Sayangnya, dengan adanya perbedaan ini, dalam persidangan kasus tersebut di PN Jombang, saksi ahli ternyata tak dihadirkan.

Kejanggalan lain, karena mayat Asrori saat ditemukan sudah rusak dan sulit dikenali, semestinya keyakinan atas identitasnya tidaklah cukup hanya berdasarkan pengamatan ciri-ciri fisik oleh keluarga -seperti yang jadi pegangan polisi selama ini.

Apalagi, menurut keterangan yang dihimpun di lapangan saat ditemukan baju yang menempel pada mayat Asrori di kebun tebu itu bukan baju yang biasa dia pakai. Selain itu, kata Dhofir, adegan rekonstruksi pertama dan kedua kasus itu juga menunjukkan perbedaan menyolok.

“Ada 11 kejanggalan dalam proses penyidikan dan dalam persidangan yang kami daftar terkait dengan kasus yang dihadapi klien kami. Kami berencana menyampaikan ini dalam surat kami perihal permintaan agar dilakukan pemeriksaan terhadap pengakuan Ryan (mengenai Mr X, red). Surat itu akan kami kirimkan ke Kapolda Jatim, Kapolri, DPR dan Komnas HAM,” kata Dhofir.

Dhofir berharap agar tak menimbulkan polemik berkelanjutan, jikalau nanti dilakukan uji DNA terhadap keluarga Asrori, sebaiknya ada pihak independen yang dimintai second opinion atau opini pembanding.” Kalau perlu, uji DNA sekalian dilakukan pula oleh pihak independen,” kata dia.

Sementara itu, kasus salah tangkap sudah sering dilakukan aparat polisi. Polda Sulteng misalnya pernah meminta maaf pada Bambang dan keluarganya karena salah tangkap. Bambang semula ditangkap karena dituduh terlibat penembakan Pendeta Susianti di di Gereja Effatha, Palu, Minggu (18/7/2004) lalu. Bambang dipukuli dan ditembak pantatnya.

Lalu Hendra (20), terdakwa kasus pembunuhan I Putu Ogik Suwarsana, pegawai Bea Cukai Pelabuhan Merak, Serang, Banten oleh kawanan geng motor di Kota Bandung, diduga kuat jadi korban salah tangkap oleh petugas kepolisian.

Bobotoh Persib anggota Viking FC ini lama mendekam di tahanan setelah diciduk petugas kepolisian menyusul pengembangan penyelidikan kasus ini. Sebelum Hendra ditangkap, sejumlah tersangka lain lebih dulu diringkus. (dumas/sof)

http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=763

8.25.2008

Jalan Sehat 'Dapat Hadiah' Mayat

JOMBANG – Jalan sehat yang digelar ratusan warga Desa Sumberejo Kecamatan Megaluh, Jombang berkhir gempar. Mereka dikejutkan dengan sesosok mayat yang mengapung di sungai desa setempat, Minggu (24/08/) Pagi, kemarin.

Mayat yang ditemukan oleh warga itu dalam kondisi yang mengenaskan. Pada beberapa bagian kepala terdapat luka. Bahkan pada bagian mulut korban itu juga terdapat luka.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, pagi itu warga Desa Sumberejo sedang menggelar acara jalan sehat peringatan HUT RI ke 63. Ketika ratusan warga melintas di sekitar sungai, mereka dikagetkan oleh sosok yang terapung di sungai. Setelah dihampiri ternyata barang yang mengapung itu adalah jasad manusia.

Kontan, warga melaporkan temuan itu ke Polsek Megaluh. Tak lama berselang, petugas datang untuk melakukan identifikasi dan menghampiri jasad manusia yang mengapung tersebut, sebelum dibawa ke RSD Jombang untuk otopsi.

Kapolsek Megaluh, AKP Rohmad Spd mengatakan, mayat yang ditemukan warga pagi itu adalah Karno, warga Desa Dukuhklopo Kecamatan Peterongan Jombang. Lelaki yang berprofesi sebagai pedagang asongan di Terminal Jombang ini tewas diduga akibat bertabrakan dengan sepeda motor.

"Dugaan sementara, korban tewas akibat tabrak lari. Untuk itu kami akan melakukan penyelidikan terkait peristiwa naas yang menimpa Karno," tegas Rohmad.(ami)

Massa Gus Dur Mengamuk

Di Tulungagung KPUD Pilih Aman

JOMBANG- Emosi massa PKB kubu Gus Dur di Jombang akhirnya pecah, kemarin. Ratusan kader PKB kubu Gus Dur berusaha menduduki kantor DPC PKB kubu Muhaimin Iskandar di Jalan Laksda Adi Sutjipto, Jombang, kemarin. Karena kantor dalam keadaan terkunci massa berusaha masuk paksa dengan menggedor pintu.

Berhasil masuk ke dalam, ratusan kader yang emosi memaksa seorang pegawai perempuan agar keluar dari kantor DPC, dan mengambil berkas-berkas caleg yang diajukan oleh DPC PKB Muhaimin Iskandar. Setelah itu, kader yang sudah diliputi kemarahan membakar berkas-berkas di samping kantor DPC.

Puas membakar berkas, kader-kader PKB Kubu Gus Dur ini juga berusaha menurunkan spanduk bergambar Muhaimin Iskandar yang terpasang di depan kantor. Namun usaha itu dihalang-halangi oleh petugas kepolisian yang menjaga kantor tersebut.

Polisi akhirnya mengamankan seorang kader yang menggunakan ikat kepala bertuliskan PKB Gus Dur karena dianggap sebagai provokator. Begitu melihat sorang temannya ditahan, massa langsung berlarian mengejar mobil polisi yang akan membawa temannya, dan meminta agar kader tersebut dilepaskan.

“Keluarkan sekarang. Kalau tidak, jangan salahkan kami apabila berbuat rusuh,” teriak massa yang marah sambil menggedor-nggedor mobil agar menghentikan lajunya.

Meski dihadang, polisi tetap bersikukuh menahan kader tersebut. Kader tersebut baru dilepaskan setelah Basyarudin ketua DPC PKB kubu Gus Dur datang untuk meminta agar kader tersebut dilepaskan.

Sementara, KPUD Tulungagung nampak berhati-hati menyikapi kepengurusan kembar DPC PKB setempat, dengan memutuskan menerima pendaftaran calon legislatif (caleg) dari dua pengurus PKB beda kubu.

“Kita belum memutuskan DPC PKB mana yang bisa mendaftarkan caleg atau tidak. Kami akan melakukan kajian lebih mendalam saat verifikasi,” jelas Ketua KPUD Tulungagung, Maksun Thohir, usai menerima pendaftaran caleg dari DPC PKB pimpinan Alfa Isnaeni.

Seiring proses pedaftaran caleg di Kabupaten Blitar beredar selebaran gelap yang mengatasnamakan Dewan Syuro DPP PKB, berisi seruan agar KPUD menolak caleg dari PKB yang mendaftarkan diri tanpa disertai tanda tangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selebaran tersebut dikirimkan kepada seluruh KPUD di Indonesia melalui faksimili.

“Dalam bulan ini saja sedikitnya kami telah menerima empat faksimili dari DPP PKB yang ditanda tanggani oleh Gus Dur untuk menolak pendaftaran caleg yang tidak ditanda tanggani oleh Ketua Umum DPP PKB (Gus Dur-red),” terang Ketua KPUD Kabupaten Blitar, Rinudji Sulaksono, kemarin.

Hanya, tegas dia, faksimili yang mengatasnamakan DPP PKB tersebut dianggap selebaran gelap dan sempat meresahkan sejumlah anggota KPUD.

Namun, ketika terakhir kali KPUD menerima faksimili 16 Agustus kemarin, Rinudji lantas sedikit percaya karena surat sebanyak tiga lembar tersebutsepertinya berasal dari DPP PKB di Jakarta. Sebab, yang mendandatangi adalah Ketua Umum DPP PKB Gus Dur serta Sekretarisnya Muhyidin Arabusman.

Surat dengan No 3530/DPP-01/IV/A.1/VIII/2008 memuat perihal tentang keabsahan caleg yang berasal dari PKB adalah yang membawa pernyataan serta terdapat tanda tangan dari Ketua Umum DPP PKB. (ami,jar,ndi)

http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=174

Dua Terpidana Pembunuh Asrori, Mengaku Disiksa Polisi


JOMBANG - Begitu Very Idam Henyansyah alias Ryan mengaku jika mayat Mr X yang masih tersimpan di Polda Jatim adalah Asrori alias Aldo adalah korbannya langsung direaksi Imam Chambali alias Kemat (30) dan Devid Eko Priyanto (23) dengan pernyataan mengejutkan.

Dari balik jeruji besi, kedua terpidana yang dijatuhi kurungan 17 dan 12 tahun lantaran di dakwa membunuh Asrori, membantah. Bahkan. mereka tak yakin jika jasad yang berada di kebun tebu yang menyeret dirinya menjalani kurungan 17 dan 12 tahun penjara di Lapas Jombang adalah Asrori. Belakangan, bahkan keduanya menyatakan tak merasa melakukan pembunuhan terhadap Asrori yang notabene tetangganya sendiri.

Saat ditemui wartawan di Lapas Jombang, Kemad dan Devid, mengatakan tidak tahu menahu siapa mayat di kebun tebu Desa Bandar Kedungmulyo yang ditemukan pada September 2007 itu. Keduanya juga menampik jika telah melakukan pembunuhan terhadap korban yang diduga Asrori itu.

Menurut Kemad, munculnya pengakuannya itu akibat tekanan dan siksaan saat dirinya berada di Polsek Bandar Kedungmulyo. Kemad dan Devid mendapat tekanan baik yang bersifat mental maupun fisik. Tidak tanggung-tanggung, kedua warga Kalang Semanding ini pernah disiksa menggunakan 'ban belt' diesel. Bukan hanya itu, ia juga sempat ditodong senapan oleh salah seorang anggota Polsek Bandar Kedungmulyo.

“Karena dipaksa saya akhirnya mengaku,” katanya seraya menyebut nama anggota polisi tersebut.

Begitu juga pada saat digelarnya rekonstruksi, Kemad merasa kebingungan dengan apa yang akan di praktekkan. “Bagaimana bisa melakukan rekonstruksi dengan lancar kalau saya tidak pernah melakukan tindakan sadis itu,” ujar Kemad yang di amini oleh Devid.

Pria kemayu ini beralasan, lancarnya rekonstruksi itu karena dirinya diajari oleh polisi. Semisal, bagaimana cara mengangkat korban, bagaimana cara menusukkan pisau ke tubuh korban, dan lain sebagainya. “Sebelum rekonstruksi saya diajari terlebih dahulu oleh polisi,” tuturnya polos.

Ketika disinggung tentang Ryan, Kemad mengaku selama ini tidak pernah mengenal warga Dusun Maijo Desa Jatiwates tersebut. Tentang mayat Mr X yang diduga Asrori tersebut, kedua juga mengaku tidak tahu menahu.

Sementara, saat di konfrotir dengan pernyataan kedua terpidana tersebut, Kartijono selaku hakim Pengadilan Negeri Jombang yang meyidangkan kedua terdakwa membantah. Dia mengatakan jika pengakuan Kemad adalah palsu dan mengada-ada. Bahkan kata dia, selama dipersidangan seluruh fakta-fakta hukum kasus pembunuhan Asrori sudah terbukti. Hasilnya, kedua tersangka itu diganjar masing-masing 17 dan 12 tahun penjara.

Sebelumnya, berdasar pengakuan Ryan kepada kerabatnya bahwa jasad ke 11 yang hingga saat ini belum terindentifikasi adalah Asrori alias Aldo, warga Desa Kalang Semanding, Perak.. Padahal, jasad Asrori sendiri ditemukan oleh warga pada September 2007 di kebun tebu Desa Bandar Kedungmulyo.

Dari pengembangan kasus tersebut, polisi akhirnya berhasil menjaring tiga orang tersangka, yakni Kemad dan Devid, yang kemudian diganjar dengan hukuman 17 dan 12 tahun penjara, sedangkan Maman alias Sugik sampai hari ini masih menjalani proses persidangan. (ami)

http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=409

8.24.2008

Menengok Libur Akhir Pekan, Dirumah Ryan


Datang Dari Jauh, Hanya Untuk Tidur Dilubang Mayat
JOMBANG – Rumah yang sekaligus menjadi Tempat Kejadian Perkara (TKP), aksi Very Idam Henyansyah alias Ryan (30) membunuh 10 korbannya, di Dusun Maijo Desa Jatiwates Kecamatan Tembelang, Jombang. Masih tetap tak surut dari keramaian. Sedikitnya puluhan orang dari luar daerah maupun luar pulau, masih tetap saja membanjiri rumah tersebut, kemarin.

Dari pantauan, keadaan itu terlihat sejak Minggu pagi (24/08/), kemarin. Sekitar pukul 09.00, kepadatan rumah sang jagal manusia asal Jombang ini, mulai diserbu oleh puluhan pengunjung, baik dari luar kota yang ada di pulau Jawa maupun dari Kalimantan atau Sumatera. Bahkan, beberapa pengunjung juga nekat tidur di lubang bekas mayat kemudian diambil gambarnya oleh keluarga atau teman mereka.

“Sekedar ingin tahu lokasi lubang bekas mayat. Selain itu ingin tahu rumah Ryan secara detail. Kebetulan hari ini kan libur, kan bisa untuk kenang-kenangan kalu sampai dirumah,” tutur Zainul Arifin, yang rela mengayuh sepeda pancal bersama rombongan dari Kediri, usai berpose di lubang bekas mayat, kemarin.

Pria yang berambut kriting ini mengku, datang dari Kediri ini bersama 10 orang kawannya dengan mengendarai sepeda ‘pancal’. Kebetulan, setiap hari Minggu, club sepeda yang ia dirikan selalu keluar kota disaat hari libur tiba. “Pagi ini memang kita mengagendakan untuk ke Jombang melihat lokasi rumah Ryan,” ujar zainul.

Hal yang sama juga dilakukan oleh pengunjung dari asal Sumatera Propinsi Riau. Hanya saja, rombongan yang datang dengan mobil panther ini lebih memilih mengabadikan kunjungannya ke rumah Ryan dengan handycamp. Tak ayal, momentum ini juga dia manfaatkan untuk mengabadikan TKP secara pribadi dengan bidikan kameranya.

“Ya, untuk kenang-kenang di Riau saja bersama keluarga kalau kita juga pernah disini,” ujar Susanto Abu, bapak 3 anak ini.

Datangnya puluhan pengunjung ke rumah Very Idham Henyansyah alias Ryan (30) ini, juga tak di sia-siakan begitu saja oleh warga sekitar. Selain membuka jasa penitipan sepeda seperti hari-hari sebelumnya, kali ini mereka juga menjadi pemandu bagi setiap ‘wisatawan’ yang datang.

Sunari (35) misalnya, warga Dusun Maijo ini, lebih memilih memanfaatkan pengetahunnya terkait kasus Ryan untuk menerangkan kepada setiap pengunjung alias menjadi pemandu. Dalam hal ini, warga yang rumahnya berada didepan Kades Jatiwates ini tidak menarik bayaran. Namun tidak jarang para pengunjung memberinya rokok.

Bak pemandu pariwisata, Sunari menerangkan kepada setiap pengunjung secara detail, mulai dari jumlah mayat yang ditemukan hingga letak dan posisi 10 jasad yang ditemukan di halaman belakang rumah sang penjagal itu.

Maklum, warga Maijo ini mengaku ikut membantu polisi dalam pembongkaran mayat yang dilakukan sebanyak dua kali itu. Sehingga, pengatahuannya tidak diragukan.

“Sejak pembongkaran mayat pertama kali saya ikut membantu, jadi saya benar-benar paham lokasi dan posisinya,” kata Sunari didepan puluhan pengunjung.

Bukan hanya itu, pria yang akrab dipanggil Cak Nari ini juga menerangkan secara rinci kepada para pengunjung tentang bagaimana Ryan menghabisi nyawa para korbannya. Sebab, lanjut dia, sebelum mulai pembongkaran, polisi terlebih dahulu menyuruh anak pasangan Ahmad – Siatun ini untuk mempraktekkan.

“Jadi saya benar-benar tahu,” tegas Cak Nari, ngotot.

Kepada pengunjung, Sunari juga menjelaskan kalau korban Ryan yang bernama Nani Hidayati (27) dan anaknya Silvia Ramadhani (3) dihabisi di dekat kamar mandi. Nani dipukul menggunakan linggis, kemudian Silvia dibanting dilantai kamar mandi.

“Kedua orang anak dan ibu itu mayatnya ditemukan di lubang dekat septic tank dengan posisi menumpuk. Kepala ibunya menghadap ke utara, sedangkan anaknya yang berumur tiga tahun itu menghadap ke selatan,” terang Sunari sambil menunjuk lubang yang dimaksud kepada puluhan pengunjung.

Lain halnya yang dilakukan oleh bude Ryan. Perempuan tua yang biasa dipanggil Mak Lik ini lebih memilih menjajakan foto Ryan dalam berbagai pose. Foto keponakannya yang ganjen itu, ia pajang didepan rumahnya yang notabene berdekatan dengan rumah mantan guru ngaji ini. Setiap foto Mak Lik mematok harga Rp. 3 ribu. Alhasil, dalam waktu setengah hari, kakak kandung Siatun (ibunya Ryan) ini mampu menjual 20 lembar foto.

Dalam menjajakan souvenir foto, wanita yang pernah diperiksa di Polres Jombang ini, tak sendiri. Ia ditemani oleh sorang cucunya yang masih berumur 5 tahun. Meski demikian, bocah yang masih duduk di TK (Taman Kanak-kanak) ini tidak canggung menawarkan souvenir foto itu kepada setiap pengunjung.

Foto pemuda kemayu ini berbeda dengan foto yang di jual Solikan (sepupu Ryan) sebelumnya. Dalam foto tersebut ada sekitar lima pose Ryan. Mulai dari Ryan berpose di depan taman rumahnya, diruang tamu, serta di ruang sebuah hotel. Pakaian yang digunakan oleh mantan guru ngaji ini juga sangat bervariasi. Ada yang mengenakan jas hingga ada juga yang hanya mengenakan kaos.

“Lumayan bisa untuk oleh-oleh. Sekaligus untuk membuktikan kalau saya pernah ke rumah pembunuh berantai ini,” ujar Maman, pengunjung dari Kalimantan yang memborong lima foto.(ami)

http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=528

8.22.2008

Ryan: Polisi Salah Tangkap


JOMBANG - Very Idam Henyansah alias Ryan bersumpah bahwa dialah yang membunuh Ansori alias Aldo (24). Kalau pengakuan Ryan ini di kemudian hari terbukti, berarti polisi telah salah tangkap.

Seperti diberitakan, ada tiga terdakwa dalam kasus pembunuhan Ansori yang mayatnya ditemukan di Jombang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Dua di antaranya sudah dipidana, yakni Imam Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko Priyanto (17). Keduanya divonis masing-masing 17 dan 12 tahun penjara pada 8 Mei lalu.


Sedangkan seorang terdakwa lainnya, Maman Sugianto alias Sugik (28), masih dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jombang. Versi polisi, Ansori adalah korban pembunuhan yang mayatnya ditemukan di kebun tebu sekitar 35 kilometer dari rumah Ryan di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang. Dalam kasus tersebut, polisi pernah memeriksa Ryan karena menemukan barang Ryan di rumah Ansori. Namun polisi tidak menemukan bukti keterlibatan Ryan sehingga jagal dari Jombang yang sudah menghabisi 11 nyawa ini dilepaskan.

Belakangan Ryan mengaku menghabisi Ansori alias Aldo sehabis Lebaran tahun 2007 atau beberapa minggu setelah penemuan mayat di kebun tebu. Menurut Ryan, mayat Ansori ia kubur di halaman belakang rumah orangtuanya. Mayat tersebut hingga kemarin disebut Mr X.

Pengakuan Ryan bahwa dirinya menghabisi Ansori alias Aldo disampaikan seorang kerabatnya yang menjenguk Ryan di Mapolda Metro Jaya Minggu (17/8). Seluruh pengakuan Ryan itu, menurut dia, sudah masuk dalam BAP (berita acara pemeriksaan) di Polda Metro Jaya

”Ryan mengaku membunuh Aldo sehabis Lebaran. Ryan bilang, Aldo kan sudah dikabarkan mati, jadi saya bunuh saja sekalian,” kata kerabat Ryan yang menolak dikutip namanya itu.

Orangtua Ryan, Akhmad Sadikun-Ny Kasiyatun, tahu identitas Mr X tersebut adalah Aldo dari Ryan. Tapi, saat diperiksa polisi, Akhmad maupun Kasiyatun bungkam. ”Hal itu dilakukan demi Ryan. Mereka khawatir kalau identitas Mr X diungkap, keamanan Ryan terancam karena terjadi salah tangkap yang menyebabkan dua orang tidak berdosa dipenjara,” kata sumber itu.

Penyidikan ulang

Di sisi lain, pengakuan Ryan itu memunculkan harapan bagi keluarga Kemat, terpidana kasus pembunuhan Ansori. Ayah Kemat, Khamin (70) tak bisa ditemui. Sedangkan ibunya, Ny Hartini tergolek di tempat tidur dan tidak bisa bicara karena sejak Jumat (15/8) terkena serangan stroke.

Kakak kandung Kemat, Rina (35), dan keponakannya, Alisa (23), berhara aparat penegak hukum menindaklanjuti pengakuan Ryan dengan melakukan penyidikan ulang. ”Bahkan kalau perlu ada uji DNA terhadap keluarga korban dan Mr X yang ditemukan di belakang rumah Ryan,” kata Alisa.

Keluarga Kemat yakin, Kemat tidak bersalah. Kepada keluarga yang membesuknya di LP Jombang, Kemat berkali-kali menyatakan dirinya tidak melakukan pembunuhan terhadap siapa pun.

Menurut Alisa, Kemat mengatakan dirinya mengaku sebagai pembunuh Ansori karena tak tahan dengan penyiksaan saat menjalani pemeriksaan oleh polisi. ”Dia itu kan punya sifat kewanitaan. Jadi, kena benturan fisik sedikit saja sudah tidak tahan dan merasa kesakitan,” ujarnya. Kemat, kendati berjenis kelamin laki-laki, memang berperilaku seperti perempuan.

Keluarga Kemat yakin, Kemat tidak bersalah dan hanya menjadi korban salah tangkap dalam kasus pembuhan Ansori. Apalagi, Kemat memiliki sifat kewanitaan. Oleh karena itu pula, ibunda Kemat, jatuh sakit akibat memikirkan nasib Kemat. ”Sejak adik saya masuk penjara, ibu sakit-sakitan. Puncaknya Jumat lalu, beliau terkena stroke,” jelas Rina.

Ketua RT tempat tinggal Ansori (alm), Sutrisno, mengatakan masuk akal jika mayat yang ditemukan di kebun tebu pada 29 September 2007 bukanlah Ansori seperti yang diyakini selama ini. Sebab, imbuh Sutrisno, mayat itu diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri fisik. ”Sedangkan mukanya tidak dapat dikenali karena sudah rusak,” katanya.

Selain itu, kata Sutrisno, pakaian yang menempel pada mayat di kebun tebut itu, bukanlah pakaian Ansori. ”Tapi ini hanya pendapat pribadi saja. Untuk tindak lanjut kasus ini, saya menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum,” katanya.

Polisi gamang

Kapolres Jombang AKBP Mohammat Khosim yang dimintai pendapat terkait pengakuan Ryan mengatakan polisi tidak akan melakukan penyidikan ulang atas kasus pembunuhan Ansori maupun melakukan uji DNA. ”Kami tetap berpedoman kepada fakta-fakta hukum yang muncul di persidangan. Dua terdakwa sudah divonis dan satu lagi masih dalam proses,” katanya.

Khosim menengarai, munculnya pengakuan Ryan bahwa dialah pembunuh Ansori merupakan bagian pembentukan opini agar aparat hukum gamang dalam mengadili Maman Sugianto alias Sugik.

”Ini sudah kami ketahui sejak 30 Juli lalu atau dua hari sejak pembongkaran kedua di belakang rumah Ryan,” katanya.

Berdasarkan penelusurannya, kata Khosim, jaringan Sugik bekerja dengan cukup cerdik. Mereka antara lain menumpangi kasus Ryan dengan tujuan Sugik terlepas dari jerat hukum. Dengan kata lain, kata Khosim, ada kemungkinan Ryan dibisiki oleh orang dari jaringan tersebut agar mengaku sebagai pembunuh Ansori. (ami/st8).

Mr X Disebut Aldo, Polisi : Ryan Bohong


JOMBANG - Very Idam Henyasyah alias Ryan (30) mengakui mayat Mr X yang ditemukan di belakang rumah orangtuanya pada 28 Juli 2008 lalu bernama Moh Ansori (24). Korban dibunuh Ryan sekitar September 2007.

Namun polisi berpendapat Moh Ansori yang diakui Ryan itu mayatnya ditemukan di kebun tebu sekitar 35 kilometer dari rumah Ryan. Pembunuhnya, Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko Priyanto (17), keduanya warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak. Mereka sudah divonis masing-masing 17 dan 12 tahun penjara.


Meski demikian Ryan ngotot bahwa Mr X adalah Moh Ansori yang biasa dipanggil dengan sebutan Aldo, warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Aldo adalah pemilik Salon Ayu di desa itu.

Pengakuan Ryan ini disampaikan kepada keluarga yang membesuknya. ”Dia mengaku membunuh Aldo karena jengkel dilecehkan,” kata sumber di keluarga Ryan, yang menolak namanya dicantumkan di koran.

”Ryan mengaku, Aldo bilang begini kepada Ryan, ’Piro sih kencan ambek koen iku. Engko tak bayar’ (Berapa sih untuk kencan dengan kamu. Nanti saya bayar). Karena merasa tersinggung, Ryan lalu membunuh Aldo,” ungkap sumber tersebut.

Sumber itu mengatakan, Ryan merasa dilecehkan karena Aldo itu jelek dan Ryan tak menyukainya. ”Ryan bilang, Aldo itu sudah pendek, hitam, tapi sok gaya. Ryan bilang, ’yang ganteng-ganteng banyak yang mau kencan sama aku, mana mau aku sama dia. Aku bunuh saja dia,” kata Ryan ditirukan sumber tadi.

Sumber itu melanjutkan, kemungkinan besar pengakuan Ryan tersebut hanya diutarakan kepada dirinya , dan belum diungkapkan kepada polisi. Lebih-lebih, berdasarkan penyelidikan polisi Jombang, mayat Asrori dianggap sudah ditemukan, yakni di kebun tebu, pada 29 September 2007.
Bahkan dua dari tiga terdakwanya pembunuhnya sudah divonis masing-masing 17 dan 12 tahun. Satu terdakwa lagi, Sugianto alias Sugik, 28, juga warga Desa Kalangsemanding, sekarang masih dalam proses hukum. Selasa (19/ 8) kemarin, berkasnya dilimpahkan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Jombang kepada Pengadilan Negeri (PN) setempat.

Kepala Satuan Reskrim Polres Jombang AKP Kasyanto membantah pengakuan Ryan tersebut. Saat diminta dikonfirmasi melalui telepon selularnya, Selasa petang, Kasyanto mengatakan, pengakuan itu tidak benar, itu hanya upaya untuk mengelabuhi polisi.

”Kita tidak menemukan kecocokan seperti yang diucapkan Ryan, informasi itu tidak benar,” kata Kasyanto.
Belum dengar

Sementara Kakak kandung Asrori, Agung, belum mendengar bahwa Ryan mengaku membunuh adiknya, Asrori. ”Saya baru mendengar dari sampeyan,” kata Agung, Selasa (19/8) sore.

Ketika disinggung apakah Asrori kerap dipanggil dengan sapaan Aldo, Agung mengaku tidak tahu. Agung belum mengambil sikap jika ternyata Asrori alias Aldo itu adalah adiknya. Sebelumnya, mayat Asrori sudah dinyatakan berada di kebun tebu Desa/ Kecamatan Bandarkedungmulya, Jombang, akhir September lalu.

Agung meragukan pengakuan Ryan tersebut. Sebab, berdasarkan identifikasi pihak keluarga, mayat yang ditemukan di kebun tebu tersebut memang mayat Asrori.

Kapolres Jombang Mohammat Khosim bahkan memastikan mayat Mr X yang ditemukan di pekarangan belakang rumah orangtua Ryan bukan mayat Asrori. Sebab mayat Asrori sudah ditemukan dan diidentifikasi oleh keluarganya.

Selain itu, kondisi mayat Mr X sendiri sudah tinggal tulang-belulang, sehingga berdasarkan pemeriksaan ahli forensik, dipastikan dikubur tahun 2006.

”Padahal mayat Asrori ditemukan 29 September 2007, atau sekitar tiga hari setelah dinyatakan hilang oleh keluarganya. Dua pelaku juga sudah divonis, sedangkan satu lagi masih menjalani proses hukum,” jelas Khosim.

Seandainya Asrori dibunuh Ryan, kata Kapolres, mayatnya tentu tidak tinggal tulang-belulang, melainkan masih ada daging meskipun sudah hancur dan membusuk.

”Mayat-mayat korban Ryan rata-rata dibunuh tahun 2007. Mayat-mayat itu umumnya masih ada dagingnya. Bahkan Zaki masih cukup utuh, termasuk celana dan sabuknya juga masih utuh,” kata Khosim.(ami/st8)

Ryan Dijenguk Keluarga


Tersangka pembunuhan berantai Very Idam Henyansyah alias Ryan (30) dibesuk keluarganya, Senin (18/8). Ryan, yang ditahan di Ruang Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya, dibesuk kedua orangtuanya, Ahmad Sadikun dan Kasiyatun, serta kakak tirinya, Mulyo Wasis.

Kepada wartawan, Mulyo Wasis membenarkan kunjungan mereka ke Polda Metro Jaya untuk membesuk Ryan. ”Ya, kami tadi membesuk Ryan, dia kondisinya sehat,” ujar Mulyo Wasis, Senin siang.

Saat ditanya kapan mereka membesuk Ryan, Wasis enggan menjawab. ”Tadi kami sudah besuk Ryan. Dia minta dibawakan nasi padang,” katanya.

Wasis juga menolak menjawab saat ditanya tempat dia tinggal selama di Jakarta. Di menjelaskan, kedatangan mereka ke Jakarta setelah mereka mendengar kalau Ryan mengalami sakit dan sempat dibawa ke rumah sakit. ”Ternyata kondisi adik saya sudah baikan,” ujarnya. Begitu bertemu kedua orangtuanya, Ryan langsung memeluk mereka.

Seperti diberitakan, Ryan dilarikan ke RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Rabu (13/8) petang sekitar pukul 17.00 karena sakit. Ryan yang ditahan di blok B9 ruang tahanan Narkoba Polda Metro Jaya tiba-tiba jatuh pingsan. Dikawal sejumlah penyidik Satuan Jatanras Polda Metro Jaya, pembantai 11 nyawa manusia itu kemudian dilarikan ke RS Polri Kramatjati Polri.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebelum pingsan kondisi fisik Ryan memang terlihat lemah. Tidak diketahui penyebab sakitnya Ryan hingga menyebabkan dia pingsan. Setelah dirawat selama satu malam, Kamis (14/8) petang Ryan kembali dijebloskan ke sel tahanan.

Ryan Disambut seperti Artis

Kehadiran tersangka pelaku pembunuhan berantai Very Idam Henyasyah alias Ryan (30) di RS Polri di Kramatjati, Jakarta Timur, membuat kaget para pengunjung rumah sakit itu. Ketika disapa pengunjung, Ryan tersenyum dan melambaikan tangan.

”Saya kaget begitu melihat Ryan dari jarak dekat, biasanya cuma lihat di televisi. Waktu dia digiring polisi, saya nyeletuk, ini Ryan ya? Ganteng juga lho.... Eh, dia lempar senyum,” ucap Ny Else (39), warga Cilincing, yang berada di rumah sakit itu untuk membesuk kerabatnya, Kamis (14/8) sore.

Else yang didampingi saudarinya, Mitha (24), bertemu Ryan ketika tersangka pembunuh itu keluar dari ruang perawatan, Kamis sore. Mereka juga kaget karena Ryan, ketika mereka sapa, bersikap seperti artis yang disapa penggemarnya.

Terkait dengan hukuman bagi Ryan, Else dan Mitha mengatakan, hendaknya Ryan dijatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. ”Dia kan sudah membunuh banyak orang, sepantasnya dihukum mati saja,” ucap Mitha yang juga mengaku kaget ketika melihat Ryan dari dekat.

Seperti diberitakan, Rabu petang Ryan dilarikan ke RS Polri karena muntah darah dan pingsan di selnya di Ruang Tahanan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya. Ryan kemudian dirawat di ruang perawatan khusus tahanan di lantai dua RS Polri. Ryan yang memakai pakaian seragam tahanan berwarna oranye dijaga enam polisi.

Kemarin sore, sekitar pukul 16.00, Ryan keluar dari ruang perawatan. Dalam perjalanan ke mobil yang akan membawanya kembali ke ruang tahanan Mapolda Metro Jaya, kepala Ryan ditutupi jaket warna hitam sehingga para fotografer kesulitan mengabadikan wajahnya. Ryan dibawa ke mapolda dengan sedan Toyota Vios warna silver bernomor polisi B 8597 DY.

Kombes dr Dasril, dokter RS Polri yang memeriksa Ryan mengatakan, Ryan mengalami perdarahan di lambung. Setelah dirawat semalam, Ryan diizinkan untuk dikembalikan ke ruang tahanan.

Mobil Vios yang membawa Ryan tiba di Mapolda Metro Jaya sekitar setengah jam sejak meninggalkan RS Polri. Saat itu, puluhan wartawan maupun fotografer telah berkumpul di dekat pintu gerbang ruang tahanan direktorat narkoba. Mobil yang membawa Ryan sempat dua kali melewati kerumunan wartawan sebelum akhirnya meluncur dengan cepat menuju pintu gerbang yang digerakkan dengan tenaga listrik.

Ketika pintu gerbang terbuka, para wartawan maupun fotografer berlari mengikuti mobil Vios. Namun, sejumlah petugas segera menghadang mereka. Bahkan, sempat terjadi dorong-dorongan antara petugas dan wartawan sehingga para jurnalis kehilangan momentum Ryan turun dari mobil dan melangkah masuk ruang tahanan.

Para wartawan menyesalkan sikap petugas di ruang tahanan narkoba. Mereka menilai penjagaan terhadap Ryan berlebihan. ”Kok penjagaannya berlebihan amat sih, padahal kita cuma mau ngambil gambar,” ujar Edi, wartawan senior yang bajunya robek ditarik petugas dalam insiden dorong-dorongan di ruang tahanan direktorat narkoba.

Keluhan senada diungkapkan Ferry, wartawan Ibu Kota. ”Kesannya Ryan diistimewakan, padahal penjagaan terhadap tersangka lain tidak seperti itu,” katanya.
Mr X

Penyidik Polda Metro Jaya menilai bukti dan pengakuan Ryan telah cukup untuk dijadikan dasar pemberkasan kasus mutilasi terhadap Heri Santoso sehingga tidak diperlukan rekonstruksi.

”Rekonstruksi tidak akan dilaksanakan. Nanti, jika kami rasa perlu, baru dilakukan,” ujar Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya, AKBP Fadhil Imran, kemarin.

Menurut Fadhil, rekonstruksi merupakan upaya untuk melengkapi berkas suatu perkara. Bila penyidik menganggap berkas sudah lengkap tanpa menggelar rekonstruksi, maka rekonstruksi tidak perlu dilaksanakan. Saat ditanya tentang boneka yang disiapkan penyidik, Fadhil menjawab, ”Ya, buat persiapan saja.”

Kemarin, beredar kabar bahwa hari itu akan digelar rekonstruksi mutilasi Heri Santoso di Apartemen Margonda Residence, Depok. Namun, hingga petang, tak ada rekonstruksi di lokasi tersebut.

Secara terpisah, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira menjelaskan, lima dari enam jenazah korban Ryan yang ditemukan pada penggalian tahap dua, akan diserahkan kepada keluarga pada hari Jumat (16/8) ini di Surabaya. Kelimanya adalah ibu-anak Nani Hidayati-Silvia D Ramadani, Agustinus Fitri Setyawan, M Zainul Abidin, (semuanya warga Jombang), dan M Aksoni (Sidoarjo).

Sedangkan satu jenazah lainnya, dengan nomor register 026, masih berstatus belum dikenali atau Mr X. Menurut Abubakar, ada empat keluarga yang mengaku sebagai kerabat jenazah nomor 026 tersebut. Namun, katanya, polisi belum dapat memastikan keluarga mana yang merupakan kerabat Mr X tersebut.

Pembohong

Pesinetron Indra Lesmana Bruggman membantah mengenal Ryan. ”Gue nggak pernah kenal Ryan. Gue tahu dia melalui media massa. Sekarang, semua orang juga tahu siapa dia,” katanya ketika ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (14/8) pagi.

Hari itu, Indra bagaikan muncul dari persembunyian. Seperti diberitakan, pekan lalu Ryan mengaku kenal baik dengan Indra Bruggman. Sejak pernyataan Ryan tersebut tersiar ke masyarakat, Indra sulit ditemui untuk dimintai konfirmasinya.

Lebih jauh, mantan kekasih Dhini Aminarti ini menuding ‘sang jagal’ dari Jombang itu adalah pembohong. ”Ryan kan membunuh korbannya dengan cara membohongi mereka dulu, masa kalian (wartawan—Red) masih percaya dengan kata-kata dia. Nih, lihat mata gue kalo elu nggak percaya. Masa gue bohong,” ujarnya seraya meminta para pewarta melihat matanya.

Indra memang tak pernah lepas dari kabar panas. Gosip terakhir tentang dia yang membuat banyak orang terhenyak adalah soal pernikahannya dengan aktor Bertrand Antolin.

Baik Indra maupun Bertrand sontak membantah kabar itu. Namun keduanya tak menampik bahwa mereka tinggal satu apartemen dan sering melakukan aktivitas bersama. Tapi bukan berarti keduanya berpacaran.

Sebenarnya ada cara ampuh buat Indra agar terlepas dari cap gay, yakni menikah. ”Duh itu kan nggak ada sangkut pautnya. Lagian gue nggak siap dan nggak mau buru-buru (nikah),” kata artis blasteran Belanda-Sunda ini.(warta kota.com)

Sisi Gelap Ryan Yang Suka Bohong dan Mengada-ada

JOMBANG - Begitu mengetahui Asrori disebut-sebut sebagai salah satu korban pembunuhan Very Idam Henyansyah alias Ryan, keluarga korban pembunuhan setahun lalu di Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang langsung bereaksi.

Bahkan ibu Asrori, Dewi Masyitoh (52), menyatakan Ryan sebagai pembohong karena mengada-ada.

“Ryan itu pembohong besar. Tidak benar jika anak saya jadi korban Ryan. Saya tahu mayat itu anak saya,” ungkap Masyitoh kepada wartawan di rumahnya, kemarin.


Asrori dibunuh pada 22 September 2007 di kebun tebu di Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak. Meski muka sudah lebam karena ditemukan sepekan berselang, keluarga masih bisa mengenali jika mayat itu Asrori.

“Saya yakin itu Asrori, karena dia anak saya. Di kakinya ada bekas luka kena knalpot dan dari giginya saya juga bisa mengenal dia,” kata Masyitoh getir pertanda ketenangannya kembali terusik.

Dilihat dari data yang ada, pengakuan Ryan menghabisi Asrori memang perlu ditindaklanjuti. Apalagi, Asrori ternyata juga orang yang memiliki kelainan seksual dan Ryan adalah seorang gay. Sebagian korban yang dibunuh Ryan juga gay.

Menurut Masyitoh, anaknya memang memiliki kelainan secara seksual (waria-red). Tapi dia yakin Asrori tidak mengenal Ryan.

“Saya yakin anak saya tak kenal orang seperti Ryan. Dia (Ryan) itu pembohong. Tak benar (pengakuan Ryan) itu,” tandas dia.

Setelah keluarga meyakini mayat yang ditemukan sebagai Asrori, polisi lalu menangkap Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko Priyanto (17), keduanya warga Desa Kalangsemanding. Keduanya kini dipenjara dengan vonis 17 dan 12 tahun penjara.(ami)

8.17.2008

Sikap Kaum Pinggiran, Pada Sang Saka


Saat Hormat Tanpa Sepatu dan Seragam
JOMBANG – Tak ada hingar bingar dan gelegar suara drumband sore itu. Hanya saja kibasan sang saka merah putih tetap terlihat malas berkibar dan akhirnya terpaksa di turunkan.

Peringatan HUT RI ke-63 pun masih terlampau senja, bagi masyarakat pinggiran kota Jombang. Dilapangan Desa Mojongapit yang menjadi saksi sang saka turun, kian bersaksi bahwa situasi dan kondisi istana negara pada hari dan jam yang sama tetap tak sama saat merah dan putih-nya menjadi saksi kepolosan rasa nasionalisme kaum pinggiran, saat sederetan kaum perempuan dan laki-laki baik muda maupuan tua, menghormati sang saka turun tanpa menggenakan seragam, sepatu dan bahasa nasional.

Upacara penurunan bendera yang dimulai sekitar pukul 17.00 WIB itu, berjalan ala kadarnya. Peserta upacara yang tak mengenakan seragam, sepatu dan bahasa kesatuan berdirinya republik, seperti yang digariskan dalam teks proklamasi, mau tidak mau tetap berjalan anggun.

Pun demikian, upacara yang digelar dilapangan yang tak memiliki panggung, pasukan, kursi dan undangan tersebut tetap berlangsung penuh khidmat. Seolah hati dan sikap nasionalisme mereka kalahkan wakil presiden (yusuf kalla) yang enggan hormat kepada sang saka di istana negara, sore itu.

Seluruh RT yang ada di Desa Mojongapit semua hadir di lapangan tersebut. Bahkan sejumlah anak kecil, dan para manula juga larut didalamnya.

"Upacara ngedukno gendero 17 Agustus 2008 kate dimulai, komandan pleton mlebu nang lapangan nyiapno barisan dewe-dewe (Upacara penurunan bendera 17 Agustus 2008 segera dimulai, komandan pleton memasuki lapangan menyiapkan barisan sendiri-sendiri)," tegas suara protokol upacara dengan bahasa jawa kental, memecah rasa ketertindasan dari penjajah (merdeka!!).

Tak berselang lama, masing-masing komandan pleton sibuk mengatur barisan. Begitu seterusnya, protokol upacara membacakan jadwal upacara dengan bahasa jawa.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Andik (35) Kepala Desa setempat mengatakan, upacara penurunan bendera dengan gaya yang khas itu merupakan agenda rutin yang digelar oleh desanya setiap Agustus.

Yang terpenting bagi warga desa Mojongapit, tambah Andik, adalah penghayatan terhadap peringatan kemerdekaan itu sendiri. Oleh karena itu, meski upacara yang digelar oleh warganya itu terkesan ala kadarnya. Namun, niat untuk menghargai pahlawan sangat besar. Terkait dengan digunakannya bahasa jawa, lanjutnya, lantaran hal itu untuk membudidayakan bahasa jawa agar tidak luntur terherus oleh arus zaman.

"Upacara ini kami gelar rutin setiap tahun. Namunkita hanya menggelar penurunannya saja," jelas Andik.(amir)

Emoh Jadi Gay, Ryan Ganti Nama


JAKARTA - Berada satu sel dengan Panglima Laskar Front Pembela Islam (FPI) membuat Very Idam Henyansyah alias Ryan (30), sang pelaku pembunuh berantai berubah.
Kemarin, selain menyatakan tobat, bujang gemulai asal Dusun Maijo, Desa Jatiwates Kec Tembelang, Jombang ini, juga telah mengganti namanya menjadi Ilham.


"Saya ini benar-benar telah taubat. Hal ini jangan diragukan lagi. Maka dari itu saya sekarang tidak mau lagi dipanggil Ryan. Saya sekarang ganti nama menjadi Ilham," tutur Ryan kepada Matsuni, Panglima Laskar FPI, seperti ditirukan Ustadz Mustafa M Bong, menirukan Ustadz Matsuni, kemarin.


Menurut Bong, yang menjabat sebagai ketua bidang ekuin di DPP FPI, keputusan pria gay itu mengganti namanya diduga karena rasa malu dan keinginannya untuk mengubur masa lalunya yang kelam.

"Ryan mengaku sedikit demi sedikit akan berusaha melupakan Noval (pacarnya, red). Bahkan dia juga berjanji akan mengubah perilakunya yang menyukai sesama jenis. Maka dari itu dia terus mendalami agama,"ungkap M Bong seraya menjelaskan, dalam bahasa Arab, Ilham berarti anugerah.

Sementara, Pengacara Ryan, Rusdi Ismail, kepada wartawan mengatakan saat ini kliennya masih terus menjalani pemeriksaan. Proses penyidikan, kata pengacara Ryan, dilakukan petugas di ruangan khusus.

Menurut dia, Ryan hanya mengaku membunuh 11 orang. "Belum ada pengakuan korban lain selain ke sebelas orang itu," ujar Ismail.(pkt/ami)

8.15.2008

Ledakan Tangis Pecah Digang Kecil


Dua Korban Ryan, Berangkat Ke Pusara
JOMBANG – Ledakan tangis histeris dari dua tempat korban Very Idam Henyansyah alias Ryan (30), yakni Zainul Abidin alias Zaki (21) dan Agutinus Fitri Setiawan alias Wawan (28), muncul dari rumah duka, di gang kecil, saat mengiringi pemakaman dua jenazah menuju pusara, kemarin.

Keberadaan dua rumah duka korban Ryan ini, yang sama-sama mempunyai ukuran 36 ini, berubah seketika saat prosesi peyerahan jenazah. Pihak petugas yang ikut mengawal jenazah pun sempat dibuat repot saat menurunkan jenazah dari mobil, lantaran kelurga korban sudah tak kuasa menahan tangis sembari menarik peti mati.

Beberapa pelayatpun tercengang berjajar, di antara gang sempit yang hanya bisa di lalui motor itu. Meski deretan kursi sudah sejak pagi disiapkan oleh pihak perangkat desa yang ikut membantu proses pemakaman kedua jenazah. Namun, setidaknya gang sempit itu menjadi satu saksi tersendiri dari pemakaman kedua korban sang pria gemulai asal Maijo itu.

Jenazah Zainul Abidin alias Zaki, yang tiba lebih dulu di rumah duka, di Dusun Dapurno Desa Dapurkejambon, Jombang, pada pukul 11.45 Wib. Langsung disambut dengan tangis histeris keluarga korban.

Ayah Zaki, yakni Masykur (43), tampak tak kuasa menahan tangis, meski ia berusaha dengan tegar mengikhlaskan kepergian anak laki-laki satu-satunya itu. Sementara Ibu Zaki, Siti Afiatun Munjidah (32) dan Adik kandung Zaki, Nur Roichana Zulfa (13), tampak shock saat peti jenazah, tulang punggung keluarga itu, di masukkan ke dalam rumah.

Usai menggelar sholat Ghoib dan tahlil, Adik kandung Zakipun kembali tak kuasa menahan tangis dan kekecewaannnya atas kepergian kakak kandungnya yang tak wajar itu. Bahkan, beberapa kali siswi kelas 1 SMP swasta di Jombang ini, sempat tak sadarkan diri saat kedua orang tua Zaki tak mampu membendung air mata yang jatuh di atas peti yang diletakkan di dalam ruang tamu di rumah duka.

Bukan hanya keluarga Zaki saja, tangis tetanga dekat kaluarga Zaki pun semakin histeris, saat adik kandung Zaki berusaha membuka peti mati, sebelum akhirnya tindakan tersebut dicegah oleh beberapa warga yang ikut melayat. "Mas, adik ikut mas, adik ikut,” tangis rintih adik kandung Zaki, yang tak merelakan kepergian kakak yang ia sayangi itu.

“Kasihan, anak sebaik Zaki, harus meninggal dengan cara seperti itu, benar-benar sadis Ryan itu, pantasnya ya, Ryan, di hukum mati saja, biar setimpal,” cetus Sumirah (30), tetangga Zaki, saat melayat ke rumah duka.

Sebelum diberangkatkan ke TPU, jenazah mantan penyiar salah satu radio swasta ini dibawa ke Masjid Agung Desa Dapurno, Dapurkejambon Jombang untuk di Sholati usai Sholat Jum'at. Saat melepas kepergian Zaki, salah satu imam masjid memberikan ceramah kepada jama'ahnya agar senantiasa memaafkan segala kesalahan Zaki di waktu masa hidupnya. Selang kemudian, Gema takbir yang berkumandang pun larut dalam keharuan megiringi jenazah Zaki menuju ke TPU.

Usai dimakamkan, Shobirin paman Zaki mewakili pihak keluarga kepada wartawan menegaskan, keluarga Zaki menyerahkan sepenuhnya penanganan hukum kepada kepolisian.

“Apapun vonis yang akan dijatuhkan kepada Ryan, keluarga Insyaallah siap menerima. Kita sudah ihlas dan sama sekali tidak dendam,” ujar Shobirin.

Dikatakan Shobirin, Zaki mulai meninggalkan rumah pada 7 Januari 2008 dan tidak kembali lagi ke orang tuanya. Ia diketahui pergi begitu saja setelah menerima telepon dari seseorang. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menemukan Zaki namun hasilnya tetap saja nihil.

“Terima kasih kepada kepolisian dan media massa yang telah mengungkap kasus ini. Atas jasa mereka, keberadaan Zaki akhirnya bisa ditemukan,” ujar Shobirin usai pemakaman, sembari tak kuasa menahan tangisnya.

Seragam Paskibraka

Sementara, jenazah korban pembunuhan berantai lainnya yang juga di makamkan hari ini, yakni Agustinus Fitri Setiawan (28) warga jl Dr Soetomo Jombang, akhirnya tiba di rumah duka pada pukul 12.00 Wib.

Tepat pukul 12.00 jenazah Agustinus tiba dirumah duka di Jalan Dr Soetomo Jombang dengan diantar oleh beberapa petugas dari Polda Jatim. Suasana yang semula hening berubah menjadi gaduh oleh isak keluarga dan kerabat korban yang telah menunggu sejak pagi.

Hal yang berbeda dari prosesi pemakaman Zaki, yang peti matinya tak dibuka. Sebelum diberangkatkan ke Pemakaman Kristen di Desa Parimono Kecamatan Jombang, keluarga Agustinus F Setiawan, terlebih dahulu menggelar kebaktian singkat di rumah duka dengan membuka peti jenazah guna mendapat salam terakhir dari para peziarah.

Jenazah Agustinus juga di pasangi seragam pasukan pengibar bendera (Paskibraka) berwarna putih ditempelkan di atas mayat yang sudah menjadi tengkorak itu. Seragam mendiang Agustinus yang sebelumnya pernah menjadi pasukan Paskibraka ini, dilakukan oleh pihak kepolisian atas permintaan ibundanya Lilik Kastumi (45).

“Sebab ini seragam yang pernah di banggakan anak saya, saya pingin ia membawa seragam itu,” ujar Lilik, sembari tak kuasa menahan air matanya.

Saat dimakamkan, di Pemakaman Kristen di Desa Parimono Kecamatan Jombang, beberapa teman Paskibraka dari Kelompok Pakribaka Indonesia (KPI) Kab Jombang, turut ikut memberikan pernghormatan terakhir di pusara. Prkatis, hal ini membuat Ibu kandung Agustinus, tak kuasa menahan air matanya, lantaran teringat dengan anaknya.

Sekedar catatan, Agustinus dinyatakan hilang sejak Juni 2007. Informasi terakhir yang diterima Lilik dan suaminya, Setyo Atmoko (55) saat itu, anaknya bekerja di sebuah balai pengobatan. Ia begitu saja hilang tanpa ada tanda-tanda keberadaannya. Upaya pencarian yang dilakukan keluarga tidak mendapatkan hasil apapun sampai akhirnya kasus Ryan terungkap.(ami)